Lokalisasi Kawasan Dolly Surabaya Masih Dibuka, Ketua RT : Minimnya Perhatian Pemkot

IMG-20220622-WA0278.jpg

Surabaya,BenuaNews.com-Belum optimalnya menghidupkan pemeberdayaan perekonomian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) masyarakat yang terdampak akibat penutupan tempat lokalisasi seks di kawasan Dolly Surabaya, mengakibatkan praktik prostitusi terselubung kerap terjadi.

Pekerja Seks Komersial (PSK) ditawari menggunakan jasa mucikari ke pria hidung belang dengan tarif dari 200 hingga 500 ribu sekali melakukan hubungan badan.

Diketahui sejak dulu, bisnis prostitusi di kawasan Dolly adalah yang paling besar di Asisa Tenggara. Penutupan tempat lokalisasi Dolly dilakukan mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini pada Juni 2014 karena memberikan dampak buruk bagi warga Surabaya.

Dari hasil pantauan www.beritakeadilan.com di lapangan Selasa, (21/06/2022) pukul 23.30 WIB, saat melintas di daerah Putat Jaya, terlihat beberapa wanita yang berpakaian seksi dengan wajah penuh make-up berdiri di pinggir jalan sambil melirik dan memanggil dengan suara pelan,” mas mas, mas mas ayo singgah bisa nego harganya,” kata salah satu PSK.

Saat itu media ini mencoba pura-pura mendekati dan bertanya,” mbak ngapain disini ?, lagi nunggu langganan, ayo mas 200 sekali main sayang” jawab salah satu PSK dengan penuh godaan.

Nirwono ketua RT 4 RW 3 Putat Jaya saat ditemui media ini mengatakan, hal ini di karenakan kurangnya perhatian dari Pemkot Surabaya.

“Minimnya perhatian Pemerintah Kota Surabaya dalam meningkatkan UMKM, untuk warga di sini, akibatnya banyak yang mencari jalan pintas dengan menjual diri demi kebutuhan hidup,” kata Norwink.

Praktek prostitusi yang masih terselubung ini, kiranya menjadi bahan pertimbangan Pemkot Surabaya untuk mengedepankan kebutuhan UMKM demi kesejahteraan masyarakat.

(Star)

(Visited 55 times, 1 visits today)
scroll to top