Benuanews, Padang 28/8/2026 – Banjir telah meninggalkan luka yang tidak mudah hilang. Rumah-rumah rusak bahkan hancur, sebagian warga kehilangan tempat tinggal, dan suasana kampung yang sebelumnya penuh aktivitas berubah menjadi duka dan kesedihan. Namun, di tengah kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Sumatera Barat (UISB) memilih untuk hadir dengan cara yang berbeda.
Bukan hanya membantu pemerintah kelurahan mendata masyarakat terdampak melalui Program Entri Data Pascabencana yang dibuat oleh mahasiswa KKN untuk mendata kembali jumlah warga di setiap RT/RW di Kelurahan Lambung Bukit, mahasiswa KKN UISB juga berupaya mengembalikan semangat warga, memberikan motivasi, dan menghidupkan kembali suasana kampung melalui berbagai kegiatan kebersamaan, termasuk memeriahkan momentum 17 Agustus di kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit. Bagi mahasiswa, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan, masyarakat juga harus dibantu untuk kembali menemukan semangatnya.
Pascabencana, kesedihan masih terasa di tengah masyarakat Batu Busuk. Kerusakan rumah dan kehilangan yang dialami warga meninggalkan dampak yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memengaruhi suasana sosial masyarakat. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN UISB berinisiatif membuat kegiatan yang bertujuan memberikan motivasi dan dorongan moral kepada masyarakat agar perlahan kembali bangkit. Mahasiswa berusaha membangun kembali interaksi dan kebersamaan warga melalui kegiatan yang bersifat edukatif, motivasional, dan rekreatif. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa bencana bukanlah akhir dari kehidupan sebuah kampung.
Masih ada hari esok. Masih ada harapan. Dan masih ada kesempatan untuk membangun kembali kehidupan bersama. Salah satu momentum yang dimanfaatkan mahasiswa KKN UISB adalah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di tengah suasana pascabencana yang masih menyisakan kesedihan, mahasiswa bersama masyarakat berupaya menghadirkan kembali kegembiraan melalui berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan 17 Agustus. Kegiatan tersebut bukan semata-mata perlombaan atau hiburan, lebih dari itu, 17 Agustus dijadikan momentum untuk mempertemukan kembali warga, menciptakan ruang kebersamaan, dan menghidupkan kembali suasana kampung yang sempat kehilangan keceriaannya akibat bencana.
Tawa anak-anak, kebersamaan orang tua, serta interaksi antarwarga menjadi bagian dari proses sederhana untuk mengembalikan kehidupan sosial masyarakat. Untuk sesaat, warga tidak hanya berbicara tentang rumah yang rusak dan kehilangan yang dialami. Mereka kembali berbicara, tertawa, berkumpul, dan merasakan bahwa kampung mereka masih memiliki kehidupan.
Ketua RW setempat mengapresiasi kepedulian mahasiswa KKN UISB yang tidak hanya membantu persoalan administratif, tetapi juga ikut memperhatikan kondisi sosial masyarakat setelah bencana. “Setelah bencana, warga tidak hanya menghadapi kerusakan rumah, tetapi juga mengalami kesedihan dan kehilangan. Karena itu, kegiatan yang dilakukan mahasiswa sangat berarti. Mereka tidak hanya membantu pendataan, tetapi juga datang memberikan semangat kepada warga dan membuat suasana kampung kembali hidup,” ujar Ketua RW setempat.
Menurutnya, kegiatan 17 Agustus menjadi salah satu momen penting untuk mempererat kembali hubungan antarwarga. “Kegiatan seperti ini membuat warga bisa berkumpul kembali. Anak-anak bisa bermain, orang tua bisa bersilaturahmi, dan suasana kampung menjadi lebih ceria. Kami berharap semangat kebersamaan ini terus terjaga sehingga masyarakat bisa perlahan bangkit setelah bencana,” lanjutnya.

Program mahasiswa KKN UISB, Entri Data Pascabencana dan kegiatan motivasi masyarakat memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi tujuan yang sama: membantu masyarakat melewati masa pemulihan. Program entri data membantu kelurahan mengetahui kondisi masyarakat yang masih tinggal di kawasan terdampak. Sementara kegiatan motivasi dan kebersamaan membantu menghidupkan kembali semangat sosial masyarakat, satu membantu pemerintah melihat kondisi warga, yang lain membantu warga kembali melihat harapan. Keduanya menjadi bagian dari pendekatan pengabdian yang mencoba melihat masyarakat secara utuh, bukan hanya sebagai data, tetapi sebagai manusia yang membutuhkan dukungan, perhatian, dan ruang untuk kembali bangkit.
Rektor UISB Ir. Yosritzal, S.T.,M.T.,Ph.D. menilai bahwa pengabdian mahasiswa harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk ketika masyarakat menghadapi situasi sulit akibat bencana. “Perguruan tinggi tidak boleh hanya hadir ketika masyarakat berada dalam kondisi normal, ketika masyarakat menghadapi bencana dan masa pemulihan, mahasiswa juga harus mampu hadir memberikan kontribusi. Bantuan itu tidak selalu berbentuk materi, tetapi dapat berupa ilmu pengetahuan, teknologi, pendataan, pendampingan, dan motivasi,” ujar Rektor UISB.
Menurutnya, program mahasiswa KKN di Lambung Bukit menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menjalankan fungsi pengabdian dengan pendekatan yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. “Kami bangga ketika mahasiswa mampu melihat bahwa masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar program kerja. Mereka membutuhkan semangat untuk bangkit, membutuhkan kebersamaan, dan membutuhkan keyakinan bahwa kehidupan harus terus berjalan. Inilah nilai penting dari pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.
Bukan Melupakan Bencana, Tetapi Belajar Bangkit Bersamanya. Mahasiswa KKN UISB menyadari bahwa kegiatan motivasi dan perayaan 17 Agustus tidak serta-merta menghapus trauma atau kerugian yang dialami masyarakat. Namun, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah kecil untuk mengembalikan semangat dan kebersamaan warga.
Bencana tidak boleh membuat kehidupan sosial masyarakat berhenti. Kampung harus kembali hidup. Anak-anak harus kembali bermain. Warga harus kembali berkumpul. Dan perlahan, masyarakat harus kembali menyusun harapan. “Kami ingin warga tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kami datang bukan hanya untuk menjalankan program KKN, tetapi untuk bersama-sama dengan warga melewati masa sulit ini. Pendataan adalah bagian dari solusi, tetapi semangat dan kebersamaan juga sangat penting untuk bangkit,” ungkap mahasiswa KKN UISB.
Dari Data, Kita Menata. Dari Semangat, Kita Bangkit. Apa yang dilakukan mahasiswa KKN UISB di Batu Busuk mungkin terlihat sederhana, sebuah aplikasi untuk membantu pendataan, sebuah kegiatan motivasi, sebuah perayaan 17 Agustus. Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat pesan yang jauh lebih besar, pemulihan tidak hanya tentang membangun kembali rumah yang hancur. Pemulihan juga tentang membangun kembali semangat orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Mahasiswa KKN UISB mencoba mengambil bagian dalam proses tersebut, mereka membantu kelurahan mendata masyarakat, membantu warga menguatkan semangat, dan bersama-sama menciptakan ruang agar kampung yang sempat diliputi kesedihan dapat kembali merasakan kebersamaan. Karena setelah air surut dan lumpur dibersihkan, perjuangan berikutnya adalah menghidupkan kembali harapan.
Dari Batu Busuk, sebuah pesan sederhana muncul, bencana boleh merobohkan rumah, tetapi tidak boleh merobohkan semangat masyarakat. Mahasiswa KKN UISB hadir membawa teknologi untuk membantu menata data, membawa kepedulian untuk mendampingi warga, dan membawa semangat kebersamaan untuk menghidupkan kembali kampung.
Dari data, kita menata. Dari kebersamaan, kita menguatkan. Dari semangat, kita bangkit. Batu Busuk tidak hanya sedang memulihkan rumahnya. Batu Busuk sedang membangun kembali harapannya.