MAKASSAR-Benuanews.com-Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Balai P2SDM) Wilayah VI Makassar menyelenggarakan kegiatan Temu Karya Penyuluhan Kehutanan 2026 SulSelBar di Hotel Harper, Kota Makassar, Sulawesi Selatan Selasa 28/4/2026.
Kegiatan ini mengusung tema “Optimalisasi Peran Penyuluh Kehutanan untuk Meningkatkan Nilai Transaksi Ekonomi (NTE) Kelompok Tani Hutan.” Sebanyak 150 peserta hadir dalam kegiatan tersebut, terdiri atas 100 penyuluh kehutanan dan 50 undangan dari berbagai instansi kehutanan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, serta NGO.
Acara ini turut dihadiri Plt. Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia, dan Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan, Wahju Rudianto.
Selain sesi pemaparan materi dan diskusi,
Temu Karya juga diramaikan dengan pameran produk Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan serta kegiatan fieldtrip ke KHDTK Diklat Kehutanan Tabo-Tabo yang dilaksanakan pada hari kedua.
Kepala Balai P2SDM Wilayah VI, Kamaruddin, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan Temu Karya ini merupakan kegiatan ketiga yang dilaksanakan di wilayah kerja Balai P2SDM Wilayah VI yang mencakup 12 provinsi, meliputi seluruh Sulawesi dan Papua.
Dalam sambutannya, Plt. Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia, menekankan pentingnya jargon Penyuluh HEBAT, yakni penyuluh yang memiliki karakter Handal, Empati, Berani, Adaptif, dan Tangguh. Ia menegaskan bahwa penyuluh kehutanan harus mampu menjadi agen perubahan berbasis data, mengubah pola pikir masyarakat sekitar hutan, serta membangun kolaborasi lintas sektor bersama penyuluh pertanian dan perikanan.
Kegiatan Temu Karya terbagi dalam tiga sesi utama. Pada sesi pertama, hadir tiga narasumber dengan moderator Manifas Zubayr, Kepala BPKH Wilayah VII Makassar. Narasumber memaparkan materi mengenai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam penyuluhan kehutanan, peran pemerintah daerah dalam mendorong NTE KTH di tingkat tapak, serta peran penyuluh kehutanan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Benang merah dari sesi pertama adalah pentingnya kolaborasi bagi penyuluh kehutanan agar mampu bertransformasi dari pola kerja mandiri menuju kerja bersama yang sinergis.
Pada sesi kedua, peserta mendapatkan materi dari Asuransi Syariah Kita Bisa mengenai perlindungan risiko kerja penyuluh kehutanan di lapangan, serta dari Dainichi Pabrik Gula Aren terkait strategi menembus pasar internasional melalui hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk.
Dipandu moderator Nawir, penyuluh kehutanan madya dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan, sesi ini menyoroti pentingnya asuransi bagi tenaga kerja kehutanan mengingat tingginya risiko pekerjaan, seperti medan ekstrem, bencana alam, gangguan
gangguan kesehatan, hingga kecelakaan perjalanan.
Sementara itu, Dainichi Pabrik Gula Aren membagikan pengalaman membangun usaha gula aren dari tingkat petani hingga pasar global melalui proses sertifikasi, standardisasi produk, dan edukasi berkelanjutan kepada petani.
Pada sesi ketiga, peserta mengikuti Bimbingan Teknis Penginputan Nilai Transaksi Ekonomi KTH pada aplikasi SIMLUH dengan fasilitator Rini Purwanti, penyuluh kehutanan madya Balai P2SDM Wilayah VI.
Dalam pemaparannya, Rini menjelaskan tugas dan fungsi baru penyuluhan kehutanan, termasuk peran balai sebagai admin SIMLUH bagi UPT Kementerian Kehutanan.
Sesi terakhir mendapat sambutan hangat dari peserta. Para penyuluh aktif menyampaikan masukan, pertanyaan, dan diskusi terkait registrasi KTH, kelompok non-KTH, penghitungan NTE, hingga tantangan pendampingan kelompok di lapangan yang kerap berbenturan dengan kebijakan satuan kerja.
Acara Temu Karya Penyuluhan Kehutanan SulSelBar 2026 berakhir tepat pukul 17.00 WITA dengan dua refleksi penting. Pertama, seluruh hasil diskusi tidak boleh berhenti di ruang pertemuan, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan. Kedua, kontribusi terbesar seorang penyuluh adalah ketika masyarakat binaannya mampu meningkat kesejahteraannya melalui kegiatan penyuluhan yang dilakukan.(WAB#)
Kontributor Sulsel : Wanda Arethusa