by: Lukman Hamarong
Beberapa waktu lalu, langkah kaki membawa saya ke Makassar untuk menunaikan tugas kedinasan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan.
Di sela-sela berakhirnya agenda kedinasan yang padat, saya menyempatkan diri melipir ke beberapa pusat perbelanjaan.
Kebetulan, demam Piala Dunia 2026 sedang melanda. Sebagai penggemar berat timnas Argentina, ada satu hasrat yang membuncah, yaitu memiliki jersey terbaru Argentina yang mereka kenakan di piala dunia tahun ini.
Misi perburuan pun dimulai. Saya menyisir sejumlah toko olahraga, hingga menjelajahi deretan mal papan atas di Makassar. Mulai dari Mal Panakkukang (MP), Trans Studio Mall, hingga Mal Ratu Indah (MaRI).
Satu demi satu outlet olahraga ternama seperti Adidas, Nike, hingga Sport Station saya masuki. Pun di toko olahraga biasa, hasilnya nihil dengan alasan klasik: “Barangnya belum masuk, Pak.”
Namun, di mal-mal besar, jajaran jersey biru-putih itu terpajang dengan anggunnya. Sayang, begitu melihat label harganya, dada saya berdesir. Angka satu hingga dua juta rupiah lebih meroket jauh di luar batas kemampuan finansial saya.
Saya hanya bisa berdiri, bertanya-tanya pada karyawannya, tanpa bisa membawa pulang jersey impian saya. Keinginan itu menggebu, namun realita dompet berkata lain.
Di tengah momentum “balik kanan” dari etalase kaca yang berkilau itu, ingatan saya mendadak terlempar pada sebaris lirik lagu legendaris Iwan Fals: “Keinginan adalah sumber penderitaan…”
Sebuah tamparan kesadaran yang lembut. Saya tersadar bahwa memaksakan sesuatu di luar takaran hanya akan merusak kedamaian pikiran. Dengan dada lapang, saya mengurungkan niat, memutar arah, dan kembali ke tempat kos anak saya untuk beristirahat.
Keesokan harinya, saya kembali menyusuri jalanan kota Makassar. Namun kali ini, niat saya sudah sepenuhnya berubah. Bukan lagi untuk berburu jersey, melainkan murni untuk menyegarkan pikiran dan jalan-jalan santai menikmati atmosfer kota Makassar.
Tuhan punya cara yang indah untuk mengejutkan hamba-Nya yang ikhlas. Di tengah perjalanan, mata saya tidak sengaja menangkap sebuah lapak sederhana di tepi jalan raya.
Di sana, berderet jersey sepak bola digantung sedemikian rupa, melambai-lambai ditiup angin, seolah memanggil para pemburu barang murah.
Di antara deretan pakaian yang digantung itu, ada satu yang membuat senyum saya langsung merekah, penuh warna, dan indah memesona, jersey Argentina!
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menepikan motor yang saya pinjam dan menghampiri lapak tersebut. Saya amati dan pegang kainnya, sangat tipis, sablonnya pun jauh dari kualitas premium ribuan benang rajutan outlet di mall kemarin.
Namun anehnya, rasa bahagia yang membuncah di dalam dada justru jauh lebih besar daripada saat saya berdiri dan bertanya-tanya di mall super mewah berbintang kemarin.
Setelah proses tawar-menawar, jersey itu sah menjadi milik saya hanya dengan harga Rp70.000. Sebuah angka yang sangat bersahabat dan pas di kantong. Hari itu juga, dengan penuh rasa bangga, saya langsung mengenakan jersey tersebut.
Perjalanan mencari sepotong jersey ini mengajarkan saya satu hal tentang kehidupan. Kebahagiaan ternyata sama sekali tidak diukur dari seberapa mahal barang yang kita miliki, melainkan dari sejauh mana hati kita mampu menerima dan mensyukuri apa yang ada.
Alhamdulillah, selalu bersyukur atas apa yang telah ditakar untuk kita. Dalam hidup, jangan selalu mendongak melihat ke atas, tetapi sesekali tengoklah ke bawah.
Di sanalah letak ketenangan sejati. Ketika kita mampu berdamai dengan ekspektasi dan mensyukuri realita, maka insya Allah, ketenangan dan kebahagiaan sejati akan senantiasa datang menghampiri langkah kita.
Terima kasih untuk sebuah lapak sederhana yang menenangkan hati dan jiwaku, serta membuatku tersenyum bahagia. Jersey Argentina ini akan menjadi sahabat terbaik dalam menyaksikan Argentina meraih mimpinya “back to back” juara dunia 2026. (LHr#)