Benuanews, Padang, 28/12/2025 – Di balik dinding-dinding kokoh Rusunawa Lubuk Buaya, Koto Tangah, tersimpan cerita-cerita sunyi yang tak terucap. Bagi orang dewasa, banjir dan longsor yang menerjang Kota Padang beberapa waktu lalu mungkin berarti kerugian materi dan rumah yang rusak berat. Namun, bagi anak-anak, bencana tersebut adalah pencurian terhadap rasa aman mereka. Suara gemuruh air dan tanah yang amblas telah menggantikan tawa di ruang tamu yang kini tak lagi bisa mereka tempati.
Menyadari bahwa luka batin sering kali tak kasatmata namun berdampak jangka panjang, sebuah kolaborasi kemanusiaan lintas lembaga hadir membawa secercah harapan. BSMI Sumatera Barat, Universitas Islam Sumatera Barat (UISB), Relawan Indonesia (#Relindo), dan Perkumpulan Akademisi dan Saintis Indonesia (ASASI) Sumatera Barat bersinergi menggelar kegiatan Psychological First Aid (PFA) khusus bagi anak-anak penyintas bencana.
Mengurai Sumbatan Emosi di Balik Tawa Kegiatan ini diikuti oleh 50 anak penyintas yang kini harus bertahan di hunian sementara. Di bawah bimbingan Bapak Untung Rivai, S.Pd., Konselor dari BSMI Jawa Timur, suasana rusunawa yang biasanya kaku berubah menjadi ruang penuh kehangatan. Sebagai fasilitator yang berpengalaman, Bapak Untung memahami bahwa pendekatan kepada anak-anak tidak bisa dilakukan dengan konseling formal yang kaku, melainkan melalui bahasa universal mereka: bermain. Kesuksesan kegiatan ini didukung penuh oleh tim pelaksana yang terdiri dari Yosritzal, Untung Rivai, Afifah Resta Nirmala, Erlin Dwisari, Yuliana Rhediva, dan Febra Andini.
Anak-anak berusia 6-12 tahun ini diajak untuk mengekspresikan apa yang terpendam dalam dada mereka. Melalui berbagai aktivitas kreatif, mereka didorong untuk melepaskan ketakutan dan kecemasan yang selama ini mungkin hanya mereka simpan sendiri saat melihat orang tua mereka sibuk menyelamatkan harta benda.
“Anak-anak adalah penyintas yang sering kali terlupakan suaranya. Mereka melihat rumah mereka hancur, mereka merasakan ketakutan orang tua mereka, dan itu menciptakan ‘sumbatan’ emosional yang luar biasa berat,” ujar Untung Rivai dengan nada getir namun penuh empati. “Tugas kami di sini sederhana namun krusial: membantu mereka mengalirkan kembali sumbatan itu agar mereka bisa kembali menjadi anak-anak yang penuh kegembiraan.”
Yosritzal, salah satu inisiator dari tim pelaksana, mengungkapkan bahwa bantuan untuk korban bencana tidak boleh berhenti pada sembako atau bahan bangunan saja. “Rumah boleh retak, tapi semangat anak-anak ini jangan sampai patah. Kami dari UISB, ASASI, BSMI, dan Relindo merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kesehatan mental mereka terjaga. Jika batin mereka sehat, mereka akan memiliki ketangguhan untuk menghadapi masa depan, seberat apa pun kondisinya sekarang,” ungkapnya.

Lebih dari Sekadar Bantuan Fisik Dalam kegiatan ini, anak-anak tidak hanya diajak bermain dan bercengkerama. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelangsungan pendidikan mereka, tim juga membagikan perlengkapan sekolah baru dan makanan ringan. Bagi anak yang kehilangan tas dan bukunya terendam lumpur, pemberian ini adalah simbol bahwa mereka harus tetap bermimpi dan kembali ke sekolah dengan kepala tegak.
Hasil dari kegiatan ini sungguh mengharukan. Anak-anak yang di awal kegiatan cenderung diam dan menarik diri, perlahan mulai menunjukkan partisipasi aktif. Gelak tawa pecah saat sesi permainan kelompok dimulai. Fasilitator melaporkan adanya peningkatan kesejahteraan mental yang signifikan; anak-anak mulai bisa menceritakan kembali peristiwa bencana tanpa rasa trauma yang melumpuhkan, sebuah langkah awal menuju pemulihan total.
Membangun Kesadaran Kolektif Kegiatan PFA ini juga menjadi pesan kuat bagi publik dan pemangku kepentingan di Sumatera Barat. Bencana banjir dan longsor di Padang adalah pengingat bahwa ketangguhan bencana harus dibangun dari akar rumput, termasuk perlindungan psikologis bagi kelompok rentan.
Penutupan kegiatan ini menyisakan kesan mendalam. Saat matahari mulai turun di Koto Tangah, anak-anak tersebut pulang membawa lebih dari sekadar tas sekolah dan camilan; mereka pulang membawa keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.
Kegiatan ini membuktikan bahwa ketika akademisi, saintis, dan relawan kemanusiaan bersatu, mereka mampu menciptakan jaring pengaman sosial yang kuat. BSMI, UISB, Relindo, dan ASASI berkomitmen untuk terus mengawal proses pemulihan ini, memastikan bahwa setiap anak penyintas di Kota Padang mendapatkan haknya untuk pulih dan kembali tersenyum.
