MASAMBA-Benuanews.com-Setiap tanggal 2 Mei, kita tidak sekadar memutar memori tentang perjuangan historis Ki Hadjar Dewantara dalam membangun fondasi pendidikan yang lebih kuat, tetapi juga membawa pesan lebih mendalam tentang pendidikan yang bergerak cepat menembus batas ruang dan waktu.
Bagi saya, pendidikan adalah rumah masa depan. Di sanalah fondasi karakter anak bangsa terus dibangun, dan mimpi anak-anak terus terpelihara agar tidak mudah tergerus oleh zaman. Maka sungguh terlalu jika kita hanya menunggu masa depan, tanpa harus menjemputnya.
Banyak yang menganggap masa depan datang sendiri. Namun, pendidikan mengajarkan kita hal berbeda. Pendidikan ialah instrumen fundamental untuk menjemput masa depan. Entitas publik dapat tetap abadi, karena pendidikan mengajarkan kita untuk berproses tanpa henti.
Tidak bisa dimungkiri, di era post-thruth yang tengah menggelinding bak “bola salju”, kita acapkali terjebak dan tersesat oleh arus informasi yang makin masif menghantam dinding akal sehat kita, sehingga kita tak bisa lagi membedakan antara realitas, absurditas, dan kepalsuan.
Kenapa pendidikan merupakan rumah bagi masa depan? Karena pendidikan memberi kita ruang untuk gagal, bangkit, kemudian belajar kembali, dan akhirnya tumbuh menjadi versi terbaik kita. Pendidikan harus dimaknai sebagai proses hidup agar cahaya masa depan tak redup.
Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun harus menjadi momentum mempercantik “rumah” sendiri. Jangan dikotori dengan tindakan yang bisa merusak masa depan. Berjalanlah tenang di atas jembatan pendidikan. Jembatan masa depan yang menghubungkan apa yang kita miliki hari ini dengan apa yang kita cita-citakan besok.
Pendidikan hari ini tidak lagi berbicara tentang literasi dasar, tetapi tentang literasi masa depan, yakni kemampuan untuk beradaptasi, berinovasi, dan tetap memiliki empati di tengah kemajuan teknologi. Semua entitas harus menjadi rumah masa depan. Tidak lagi menjadi objek statis yang hanya berfungsi sebagai tempat kerja, tetapi menjadikannya sebagai sistem yang adaptif.
Kita tidak boleh hanya menunggu masa depan datang untuk mengetuk pintu, tetapi kita harus membangun rumahnya hari ini. Caranya adalah membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian melangkah keluar untuk menjemput masa depan yang kita inginkan.
Bersiaplah untuk hari ini dan nanti. Tanpa kesiapan prima, kita akan terseret arus agitasi. Sebab dunia tidak akan pernah berhenti “berisik” mengganggu jiwa-jiwa yang menginginkan kedamaian hakiki. Jangan menjadi beban negara yang hanya menunggu “aji mumpung”.
Karena pada akhirnya, siapa yang memiliki persiapan yang lebih prima, maka dialah yang akan sampai ke tujuan dengan “husnul khotimah”. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026! Mari terus belajar, karena dari pendidikan, kita akan menjemput masa depan yang penuh gemilang. (LHr#)
Oleh. : Lukman Hamarong
