KEPULAUAN SELAYAR-Benuanews.com-Dua puluh tujuh hari telah berlalu sejak Kapal Layar Motor (KLM) Nurul Salsa tenggelam di perairan sebelah barat Desa Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Namun, bagi keluarga korban yang hingga kini belum ditemukan, waktu seolah berhenti pada sore nahas itu.
Harapan agar orang-orang tercinta kembali masih terus dipeluk di tengah duka yang tak kunjung usai.
Setiap hari dilalui dengan do’a, penantian, dan harapan akan kabar yang selama ini belum juga datang.
KLM Nurul Salsa, kapal GT 38 yang mengangkut 81 orang penumpang beserta puluhan ton barang, dilaporkan tenggelam pada Rabu (15/7) sekitar pukul 16.00 Wita setelah mengalami gangguan mesin yang kemudian disusul kerusakan pada sistem water pump.
Insiden tersebut berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang menyisakan duka mendalam bagi banyak keluarga.
Di sejumlah rumah keluarga korban, suasana duka masih terasa begitu pekat. Tatapan kosong,
Lantunan do’a yang tak pernah berhenti, serta telepon seluler yang terus dipantau setiap saat menjadi rutinitas baru mereka.
Bagi keluarga, setiap dering telepon masih menyimpan harapan akan kabar mengenai anggota keluarga yang hingga kini belum ditemukan.
Bagi mereka, sembilan belas hari bukan sekadar hitungan waktu. Setiap hari adalah perjalanan panjang yang dipenuhi kecemasan, ketidakpastian, dan kerinduan terhadap orang-orang yang belum kembali.
Sewang, salah seorang kerabat korban, mengaku keluarga masih berharap seluruh korban yang dinyatakan hilang dapat segera ditemukan.
“Saya selaku pihak keluarga berharap agar seluruh korban bisa segera ditemukan,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah bersama seluruh tim SAR gabungan tetap melanjutkan upaya pencarian, terutama terhadap Maridaeng bersama empat anggota keluarganya yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya.
“Kami memohon agar pemerintah tidak menghentikan ikhtiar pencarian. Harapan kami sederhana, semoga Maridaeng bersama empat anggota keluarga kami dan seluruh korban lainnya bisa segera ditemukan sehingga keluarga memperoleh kepastian,” katanya.
Hingga memasuki hari ke-19 pascakejadian, keluarga korban masih bertahan dalam penantian yang panjang.
Di balik berlalunya waktu, mereka terus menyimpan satu harapan yang sama: agar orang-orang tercinta segera ditemukan dan dapat kembali ke pangkuan keluarga, apa pun kondisinya.(AFS#)