Tangisan Lapar Pengungsi Banjir Bandang Aceh Tamiang: “Anak-Anak Menangis Sejak Pagi, Tak Ada Makanan”

IMG-20251206-WA0011.jpg

Aceh Tamiang —Benuanews.com – Derita para pengungsi banjir bandang di Aceh Tamiang kian memuncak. Di tengah tenda darurat yang berdiri di tanah berlumpur, suara tangisan anak-anak karena kelaparan terdengar hampir sepanjang hari. Sejumlah warga mengaku sudah lebih dari dua hari hanya meminum air seadanya tanpa makanan layak.

“Anak-anak sudah menangis sejak pagi. Mereka kelaparan, kami tak punya apa pun,” kata Siti (34), pengungsi asal Kecamatan Bandar Pusaka, saat ditemui di tenda darurat, Sabtu 06 Desember 2025.

Menurut Siti, bantuan logistik belum merata. Beberapa titik pengungsian bahkan belum tersentuh distribusi makanan karena akses jalan terputus oleh arus deras dan tumpukan material banjir.

Pantauan di lapangan, banyak anak balita tampak lemas. Beberapa lansia bahkan tak mampu lagi berdiri karena kurang asupan makanan sejak dievakuasi.

Di dalam tenda, seorang ibu muda terlihat memeluk dua anaknya yang menangis. Tidak ada makanan, tidak ada susu, hanya air mineral seadanya untuk menahan lapar.

“Yang penting mereka tenang dulu. Saya sudah tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya dengan suara bergetar.

Malam hari, kondisi semakin memilukan. Udara dingin menusuk tubuh, sementara para pengungsi harus tidur dengan perut kosong. Tidak sedikit yang terjaga karena rasa lapar yang tak tertahankan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan jumlah pengungsi terus bertambah. Sejumlah desa terisolasi karena jembatan rusak dan akses menuju lokasi pengungsian tertutup lumpur tebal.

Relawan menyebut kondisi di beberapa pos pengungsian kategori darurat. Kekurangan air bersih, selimut, obat-obatan, dan makanan menjadi masalah utama.

“Kami sedang berusaha masuk ke titik-titik yang belum terjangkau. Kondisinya sangat memprihatinkan,” kata seorang relawan yang sedang mendistribusikan logistik.

Tangisan anak-anak yang kelaparan menjadi gambaran paling memilukan dari bencana ini. Para orang tua hanya bisa berharap bantuan cepat tiba agar kondisi tidak semakin memburuk.

“Kami cuma ingin makanan untuk anak-anak. Tolong kami,” ucap seorang bapak sambil menahan air mata.

Di tengah keterbatasan, warga berusaha saling berbagi apa pun yang tersisa, meski hanya sekotak biskuit yang dibagi untuk beberapa orang.

Bencana banjir bandang Aceh Tamiang bukan hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga memaksa ratusan warga bertahan dalam kondisi kelaparan. Tangisan lapar para pengungsi menjadi alarm kemanusiaan yang menuntut respon cepat dari pihak terkait.(Surya Darma)

scroll to top