75 Kasus Karhutla Ditangani Polda Jambi, 14 Orang Jadi Tersangka, Hampir 3.000 Hektare Terbakar

1002506805.jpg

JAMBI.(Benuanews.com)-Karhutla di Provinsi Jambi belum benar-benar reda. Di balik kepulan asap dan titik api yang terus dipantau, aparat mencatat puluhan perkara telah masuk jalur penegakan hukum. Hingga 14 September 2026, Polda Jambi bersama jajaran menangani 75 kasus Karhutla dan menetapkan 14 orang sebagai tersangka. Pada periode yang sama, hampir 3.000 hektare lahan tercatat terbakar di berbagai wilayah Jambi.

Data Posko Induk Satgas Karhutla Provinsi Jambi per Senin (14/9/2026) mencatat, dari 75 kasus tersebut, sebanyak 60 perkara masih dalam tahap penyelidikan, sedangkan 15 perkara telah masuk tahap penyidikan.

Penanganan perkara tersebut tersebar di sejumlah wilayah hukum di Provinsi Jambi. Kabupaten Sarolangun menjadi wilayah dengan jumlah kasus dalam tahap penyelidikan paling banyak, yakni 26 kasus. Disusul Muaro Jambi 10 kasus, Batanghari 11 kasus, Tanjung Jabung Timur 6 kasus, Merangin 3 kasus, Bungo 3 kasus dan Tanjung Jabung Barat 1 kasus.

Sementara itu, 15 kasus yang telah naik ke tahap penyidikan ditangani oleh sejumlah satuan kewilayahan dan Polda Jambi. Rinciannya, Polda Jambi 2 kasus, Polresta Jambi 1 kasus, Polres Sarolangun 1 kasus, Polres Tebo 2 kasus, Polres Tanjung Jabung Barat 3 kasus, Polres Tanjung Jabung Timur 1 kasus, Polres Bungo 1 kasus, Polres Merangin 1 kasus, Polres Batanghari 1 kasus, Polres Muaro Jambi 1 kasus serta PPNS Dinas Kehutanan 1 kasus.

Dari 15 perkara yang telah memasuki tahap penyidikan itu, 5 kasus telah memasuki Tahap I, sedangkan 10 kasus lainnya masih dalam proses penyidikan.

Persoalan Karhutla tidak hanya tercermin dari jumlah perkara. Luasan lahan yang terdampak kebakaran juga terbilang signifikan.

Berdasarkan data Satgas Karhutla hingga 14 September 2026, total luas lahan terbakar di Provinsi Jambi mencapai 2.998,02 hektare. Dari angka tersebut, sekitar 2.289,27 hektare merupakan lahan mineral dan 708,75 hektare merupakan lahan gambut.

Batanghari tercatat sebagai wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni 773,25 hektare. Berikutnya Sarolangun 508,55 hektare, Tanjung Jabung Barat 488,75 hektare, Muaro Jambi 556,61 hektare, Tebo 312,46 hektare dan Tanjung Jabung Timur 271,70 hektare.

Sementara Bungo tercatat 69,40 hektare dan Merangin 17,30 hektare. Sedangkan Kerinci, Kota Sungai Penuh dan Kota Jambi belum tercatat memiliki luasan area terbakar dalam data tersebut.

Ancaman kebakaran juga masih terlihat dari pemantauan titik panas atau hotspot.

Pada 14 September 2026, terdeteksi 236 titik hotspot di wilayah Jambi. Sebanyak 234 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang dan dua titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi.

Hotspot tersebut tersebar di sejumlah daerah. Sarolangun menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 66 titik. Kemudian Tebo 51 titik, Muaro Jambi 34 titik, Tanjung Jabung Barat 26 titik, Tanjung Jabung Timur 21 titik, Bungo 20 titik, Batanghari 8 titik, Merangin 8 titik, Kota Sungai Penuh 1 titik dan Kerinci 1 titik.

Secara kumulatif, sejak 1 Januari hingga 14 September 2026, tercatat 7.682 titik hotspot di Provinsi Jambi berdasarkan pemantauan satelit Terra Aqua dan SNPP.

Namun, tidak seluruh hotspot otomatis merupakan kebakaran. Karena itu, Satgas Karhutla melakukan verifikasi langsung di lapangan atau ground check.

Dari kegiatan ground check yang dilakukan Satgas Patroli Udara, Posko Darat dan Posko Aman Nusa II-2026 Polres jajaran, ditemukan 11 firespot yang telah diverifikasi.

Sebanyak dua titik berada di Muaro Jambi, tiga titik di Tanjung Jabung Timur, dua titik di Tanjung Jabung Barat, serta masing-masing satu titik di Batanghari, Tebo, Sarolangun dan Merangin.

Upaya pemadaman juga terus dilakukan, termasuk melalui operasi water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit ditangani dari jalur darat.

Operasi pemadaman udara menyasar kawasan Desa Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muaro Jambi. Selain itu, pemadaman udara juga dilakukan di Kecamatan Sadu dan kawasan Tahura Orang Kayo Hitam, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Sejumlah helikopter dikerahkan dalam operasi tersebut, baik untuk patroli maupun water bombing. Di antaranya Heli Reg. N274TH, VN-8414, RA-22840 serta Heli TNI AU H-3216.

Di darat, personel gabungan juga terus bergerak melakukan patroli, pengecekan hotspot, pemadaman serta sosialisasi kepada masyarakat.

Operasi tersebut melibatkan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran (RPK) dan unsur terkait lainnya.

Kapolda Jambi Irjen Pol Krisno H. Siregar melalui Kabid Humas Polda Jambi Kombes Pol Erlan Munaji mengatakan, penanganan Karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api. Pencegahan dan penegakan hukum juga menjadi bagian penting dalam strategi penanganan.

“Polda Jambi bersama seluruh jajaran berkomitmen menangani Karhutla secara maksimal dan terpadu. Penanganan tidak hanya melalui upaya pemadaman di lapangan, tetapi juga memperkuat pencegahan serta penegakan hukum apabila ditemukan adanya unsur pidana,” ujar Erlan Munaji, Senin (14/9/2026).

Menurut dia, penanganan puluhan kasus Karhutla tersebut merupakan bentuk keseriusan aparat dalam memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah terjadinya pembakaran hutan dan lahan yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Kami tidak akan membiarkan pembakaran hutan dan lahan dilakukan secara sengaja. Setiap informasi dan temuan di lapangan akan dilakukan verifikasi. Apabila ditemukan adanya unsur pidana, tentu akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.

Erlan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka, membersihkan maupun mengelola lahan dengan cara membakar.

Terlebih, kondisi cuaca dan tingkat kemudahan lahan terbakar masih perlu diwaspadai. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas apabila tidak segera ditangani.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Jangan sampai api yang awalnya kecil kemudian meluas dan berdampak terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat maupun aktivitas warga,” katanya.

Dia juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan titik api maupun aktivitas pembakaran lahan.

Polda Jambi memastikan sinergi lintas instansi akan terus diperkuat. Satgas Darat dan Satgas Udara bersama TNI, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan pemantauan hotspot, ground check, patroli, pemadaman hingga edukasi kepada masyarakat.

“Sinergi seluruh unsur sangat penting. Kami terus melakukan pemantauan melalui Satgas Darat dan Satgas Udara, termasuk water bombing pada lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat,” jelas Erlan.

Menurutnya, pencegahan tetap menjadi langkah paling penting agar kasus Karhutla tidak terus bertambah.

“Yang paling utama adalah pencegahan dan kesadaran bersama. Mari kita jaga Jambi agar terbebas dari Karhutla,” pungkasnya.

(Red)

scroll to top