TANJUNG JABUNG TIMUR.(Benuanews.com)– Foto tumpukan batu bata yang berserakan di jalan rusak perbatasan Kelurahan Bandarjaya dan Desa Marga Mulya, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kembali menjadi perbincangan setelah sejumlah pihak menyebut dokumentasi tersebut sebagai hoaks di media sosial.
Namun, berdasarkan keterangan warga dan dokumentasi yang diperoleh, foto tersebut merupakan dokumentasi asli yang diambil pada 9 Mei 2026 sekitar pukul 10.32 WIB.
Saat itu, warga secara swadaya membeli batu bata untuk menutupi lubang-lubang jalan yang telah lama rusak dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut informasi yang dihimpun, batu bata tersebut dibeli secara gotong royong oleh warga dengan harga sekitar Rp1,500 juta per kendaraan (1 LG) sebanyak 2.000 biji.
Material itu kemudian ditaburkan dan dipecahkan untuk menutup titik-titik jalan berlubang di ruas jalan alternatif yang menghubungkan wilayah Bandarjaya dan Marga Mulya.
“Foto itu memang benar adanya. Diambil pada tanggal 9 Mei 2026.
Warga membeli batu bata untuk memperbaiki jalan yang berlubang karena kondisi jalan sudah cukup memprihatinkan,” ujar salah seorang warga yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Lokasi jalan yang diperbaiki secara swadaya tersebut berada di RT 09 RW 02 Kelurahan Bandarjaya, yang berbatasan langsung dengan Desa Marga Mulya, Kecamatan Rantau Rasau.
Warga juga menjelaskan alasan mengapa saat ini batu bata dalam foto tersebut sudah tidak terlihat di lokasi. Setelah ditaburkan ke badan jalan, batu bata dipecahkan dan secara bertahap hancur akibat dilalui kendaraan yang melintas setiap hari.
Karena itu, kondisi terkini di lapangan berbeda dengan dokumentasi yang diambil lebih dari satu bulan lalu.
“Kalau sekarang tidak terlihat lagi karena sudah hancur dilindas kendaraan. Batu bata itu memang digunakan untuk menutup lubang jalan, bukan sekadar ditumpuk atau dibuang begitu saja,” jelas warga.
Munculnya narasi yang menyebut foto tersebut hoaks dinilai berpotensi menyesatkan publik apabila tidak disertai verifikasi menyeluruh terhadap waktu pengambilan foto dan kondisi lapangan saat dokumentasi dibuat.
Dalam praktik jurnalistik, sebuah foto tidak serta-merta menjadi hoaks hanya karena kondisi lokasi saat ini sudah berubah. Yang perlu dibuktikan adalah apakah foto tersebut benar diambil di lokasi yang disebutkan dan sesuai dengan kondisi pada waktu pengambilan gambar.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga setempat, dokumentasi tersebut merupakan bagian dari aksi swadaya masyarakat yang berupaya mempertahankan akses jalan penghubung antarwilayah agar tetap dapat dilalui, terutama saat musim hujan.
Warga berharap polemik mengenai foto tersebut tidak mengalihkan perhatian dari persoalan utama, yakni kondisi infrastruktur jalan yang masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Masyarakat menilai semangat gotong royong yang dilakukan warga untuk memperbaiki jalan secara mandiri seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait agar penanganan kerusakan jalan dapat dilakukan secara permanen.
“Yang terpenting bukan soal fotonya, tetapi bagaimana kondisi jalan ini bisa diperbaiki secara layak. Karena jalan ini merupakan akses penting bagi masyarakat Bandarjaya dan Marga Mulya,” ungkap warga.
(Red)