313 MOTOR PENGANGKUT SAMPAH DI MAKASSAR RUSAK, DLH DORONG PENGELOLAAN SAMPAH DARI SUMBER

IMG-20260828-WA0037.jpg

MAKASSAR-Benuanews.com-Persoalan persampahan di Kota Makassar tidak hanya berkaitan dengan tingginya volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari. Kondisi armada pengangkut sampah juga menjadi perhatian serius, menyusul ratusan kendaraan yang digunakan untuk menunjang pelayanan kebersihan mengalami kerusakan.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mencatat, dari total 1.073 unit motor roda tiga yang menjadi bagian dari armada pengangkutan sampah, sebanyak 236 unit mengalami rusak ringan dan 77 unit rusak berat.

Dengan demikian, sedikitnya 313 unit atau sekitar 29 persen dari total motor roda tiga tersebut berada dalam kondisi tidak baik.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kota Makassar dalam menjaga kelancaran pelayanan pengangkutan sampah di berbagai wilayah.

Armada pengangkut memiliki peran penting dalam mengangkut sampah dari lingkungan permukiman, fasilitas umum hingga titik-titik pengumpulan menuju lokasi pengelolaan atau tempat pemrosesan akhir.

Ketika sebagian armada mengalami kerusakan, kendaraan yang masih beroperasi berpotensi menanggung beban kerja lebih besar. Sementara kendaraan yang rusak harus menjalani proses perbaikan agar kembali dapat digunakan.

Persoalan kondisi armada juga tidak hanya terjadi pada motor roda tiga. Kerusakan tercatat pada sejumlah jenis kendaraan lainnya, seperti Tangkasaki, dump truck, arm roll truck hingga mobil compactor.

Kondisi tersebut menjadi perhatian DLH Makassar mengingat kebutuhan terhadap armada pengangkutan sampah cukup tinggi. Di tengah aktivitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan permukiman, pelayanan persampahan membutuhkan dukungan armada yang memadai.

Namun, Kepala DLH Makassar Helmy Budiman menegaskan, persoalan sampah tidak semata-mata dapat diselesaikan dengan peremajaan atau penambahan armada.

Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sumber sampah, khususnya rumah tangga, hingga proses pengangkutan dan pengelolaan di tingkat wilayah.

Karena itu, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mengurangi beban sistem pengangkutan sampah. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Sampah yang masih memiliki nilai guna, seperti plastik, kertas, kardus, logam dan jenis sampah lainnya, dapat dipisahkan untuk kemudian dikelola melalui sistem pengurangan, penggunaan kembali maupun daur ulang.

Dengan pemilahan sejak dari sumber, tidak seluruh sampah harus masuk ke dalam sistem pengangkutan menuju tempat pemrosesan akhir. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan atau didaur ulang bisa dikelola terlebih dahulu melalui fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

DLH Makassar pun mendorong penguatan Bank Sampah Unit, Bank Sampah Sektor dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di berbagai wilayah.

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya bergantung pada armada pemerintah.

Bank Sampah Unit dapat menjadi tempat masyarakat memilah dan menyerahkan sampah yang memiliki nilai ekonomi. Sementara Bank Sampah Sektor dapat memperkuat pengelolaan sampah dalam skala wilayah yang lebih luas.

Adapun TPS3R diharapkan mampu menjadi fasilitas pengelolaan sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle, sehingga volume sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir dapat ditekan.

Konsep tersebut sekaligus dapat membantu mengurangi tekanan terhadap armada pengangkut sampah.

Jika sampah telah dipilah dan sebagian dikelola di tingkat rumah tangga maupun komunitas, volume sampah yang harus diangkut dapat berkurang. Dengan demikian, armada yang tersedia dapat lebih difokuskan untuk mengangkut sampah residu yang memang sudah tidak dapat dimanfaatkan.

Persoalan kerusakan ratusan armada ini menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk melihat pengelolaan sampah secara lebih menyeluruh.

Peremajaan kendaraan tetap diperlukan untuk memastikan pelayanan kebersihan berjalan maksimal. Namun, perbaikan dan penambahan armada harus berjalan beriringan dengan upaya mengurangi sampah dari sumbernya.

Pemerintah kota juga perlu terus melakukan pemetaan terhadap kondisi seluruh armada, mulai dari kendaraan yang mengalami kerusakan ringan hingga kendaraan yang membutuhkan perbaikan berat maupun penggantian.

Langkah tersebut penting agar pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan, terutama di wilayah dengan produksi sampah yang cukup tinggi.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk membuang dan memilah sampah dengan benar juga menjadi faktor penting.

Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat, pengelola lingkungan, pengurus RT/RW, komunitas, pelaku usaha hingga pengelola bank sampah memiliki peran masing-masing dalam mengurangi persoalan persampahan di Kota Makassar.

Kerusakan 313 dari 1.073 motor roda tiga menunjukkan bahwa kondisi armada perlu mendapat perhatian serius. Namun, penyelesaian persoalan sampah tidak cukup hanya dengan mengganti kendaraan yang rusak.

Diperlukan strategi yang lebih komprehensif, yakni memperbaiki dan meremajakan armada sekaligus mengurangi volume sampah melalui pemilahan dan pengelolaan sejak dari sumber.

Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, sistem persampahan Kota Makassar diharapkan menjadi lebih efektif, efisien dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya diukur dari seberapa banyak armada yang mampu mengangkut sampah setiap hari, tetapi juga dari seberapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, dipilah, dimanfaatkan dan dikelola sebelum mencapai tempat pemrosesan akhir.(FAWB#)

scroll to top