Tualang, BenuaNews.com – Keberhasilan panen perdana usaha peternakan ayam milik Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Pinang Sebatang Timur, Kecamatan Tualang, menuai apresiasi dari masyarakat. Program ini dinilai sebagai langkah positif dalam mendorong kemandirian ekonomi kampung.
Namun di balik apresiasi tersebut, warga juga mulai menyoroti pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan anggaran dan realisasi program usaha tersebut.
Berdasarkan pantauan kontrol sosial pada 30 Maret 2026, usaha peternakan ayam yang dikelola BUMKam telah menunjukkan hasil nyata melalui panen telur perdana yang langsung dipasarkan kepada masyarakat.
“Ini tentu kemajuan yang patut diapresiasi. Tapi kami juga berharap pengelolaan anggaran dan pelaksanaan usaha ini dilakukan secara transparan sesuai rencana awal,” tegas salah seorang warga.
Langkah BUMKam dalam mempromosikan hasil panen melalui bazar dinilai sebagai upaya positif untuk mengajak masyarakat terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif, seperti peternakan dan pertanian yang bernilai jual.
Direktur BUMKam Pinang Sebatang Timur, Andri Frantika, menyampaikan bahwa unit usaha kandang ayam kini telah resmi beroperasi dan menjadi salah satu program unggulan kampung.
Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memperkenalkan hasil panen perdana, pihak BUMKam menggelar bazar telur segar dengan harga di bawah pasar.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Selasa, 31 Maret 2026, Pukul 10.00 WIB hingga selesai, Halaman Kantor Penghulu Kampung Pinang Sebatang Timur
Pihak penyelenggara menyebutkan bahwa stok masih terbatas karena merupakan produksi awal, sehingga pembelian dibatasi maksimal 2 papan per orang dengan sistem siapa cepat dia dapat.
Meski demikian, masyarakat berharap program ini tidak hanya berhenti pada seremoni panen perdana, tetapi benar-benar dikelola secara profesional, terbuka, dan berkelanjutan.
Kontrol sosial menilai, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar program BUMKam benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, serta terhindar dari potensi penyimpangan di kemudian hari.
Agus zega.
