Pensiun di Pengujung Tahun, “Sang Getar Dilan” Menuju Gerbang Kehidupan Baru yang Lebih Fleksibel*

IMG-20251231-WA0150.jpg

Luwu Utara]Benuanews.com. Satu lagi birokrat terbaik milik Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Luwu Utara mengakhiri masa pengabdiannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Terhitung mulai 31 Desember 2025, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Ir. Alauddin Sukri, M.Si., resmi memasuki masa purna bakti.

Ini berarti bahwa dirinya harus mengakhiri kehidupan birokrasinya pada jajaran pemerintahan di Luwu Utara, dan bersiap untuk memasuki kehidupan baru yang lebih fleksibel.

Alauddin Sukri bukanlah nama baru di Kabupaten Luwu Utara. Namanya sudah sangat familiar di kalangan ASN Luwu Utara. Beberapa posisi atau jabatan penting pernah ia duduki.

Karier birokrasinya mulai bersinar saat Indah Putri Indriani menjabat sebagai Bupati Luwu Utara pada 2016 – 2024. Salah satu jabatan yang didudukinya adalah Kepala Balitbangda.

Sebelumnya Alauddin juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP). Salah satu capaian terbesarnya adalah saat menggetarkan Indonesia dengan Inovasi Getar Dilan.

Inovasi ini sukses masuk ke dalam jajaran elit inovasi terbaik di Indonesia pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) melalui Sinovik dengan masuk ke dalam TOP 45 Inovasi Terbaik.

Sebagai inovator Getar Dilan, ia acapkali diundang pada berbagai forum inovasi, baik pada tingkat regional maupun nasional. Namanya pun mulai dikenal sebagai sosok inovator jempolan.

Sebuah pencapaian yang luar biasa setelah puluhan tahun mengabdi kepada bangsa, negara, dan daerah. Ia telah meninggalkan legacy, yang mungkin tak semua orang bisa melakukannya.

Memasuki masa purna bakti, ia diharapkan tidak berhenti mengabdi, terutama buat Luwu Utara, meski tidak melalui pintu-pintu birorasi lagi, melainkan melalui pintu pengabdian lain.

Baginya, pensiun bukan akhir dari sebuah pengabdian, melainkan awal dari fase kehidupan yang lebih fleksibel dan produktif, karena tidak terikat lagi dengan aturan birokrasi yang kompleks, dan jam kerja yang sangat ketat.

Transisi fase kehidupan ini selaiknya menjadi pengungkit semangat untuk lebih dahsyat lagi dalam berkarya. Babak baru ini menjadi momentum menikmat masa-masa yang lebih produktif.

Bukan malah sebaliknya, berhenti mengabdi, berhenti pula berkarya. Sejatinya pensiun itu adalah awal untuk berjuang dan berkarya pada ladang pengabdian yang lebih luas. Tak hanya keluarga, tetapi juga untuk berbagai komunitas sosial di masyarakat.

Pensiunnya “Sang Getar Dilan” dari hiruk pikuk kehidupan birokrasi di pengujung tahun bukanlah sebuah kehilangan, melainkan sebuah kebanggaan bagi Luwu Utara karena akan banyak ladang pengabdian bagi dirinya untuk lebih fokus dalam berkarya.

Alauddin Sukri adalah simbol keberhasilan dan integritas, karena ia mampu menyelesaikan tugas serta pengabdiannya secara elegan, dan ia mengakhirinya dengan husnul khotimah.

Alauddin adalah wujud loyalitas. Ia telah mampu menunjukkan kesetiaan serta profesional dalam berkinerja dan mengabdi kepada bangsa, negara, dan daerahnya selama puluhan tahun.

Bendera pengabdiannya ia kibarkan di pengujung tahun ini, agar semua orang melihat bendera itu terus berkibar. Sebuah momen spesial agar para juniornya tak kehilangan jejak indah dari “Sang Getar Dilan” tersebut.

“Alhamdulillah, jelang masa purna bakti, saya tentu berkemas-kemas untuk kembali ke kehidupan yang lebih baru. Tidak lupa saya menyampaikan terima kasih kepada semua sahabat yang telah men-support saya, sehingga hari ini saya finish sebagai Aparatur Sipil Negara. Salama ki tapada salama,” tulis Alauddin di grup-grup WhatsApp. (LHr)

Tim Redaksi.

scroll to top