Di Balik Bobolnya Bank Jambi, Transparansi Jadi Kunci Pemulihan Kepercayaan

1001557335.jpg

JAMBI.(Benuanews.com)– Kasus pembobolan sistem Bank Jambi yang merugikan nasabah hingga ratusan miliar rupiah terus menuai sorotan. Tokoh masyarakat Jambi, Usman Ermulan, mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan menyeluruh.

Usman menegaskan, pengungkapan kasus ini tidak hanya penting untuk menemukan pelaku, tetapi juga untuk mengidentifikasi kelemahan sistem maupun potensi kelalaian di internal perbankan.

“Harus dicari di mana letak kelemahannya, apakah dari sistem atau ada oknum di internal. Ini harus dibuka secara terang agar tidak terulang kembali,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Ia menilai, keterbukaan informasi menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik yang saat ini mulai terganggu akibat insiden tersebut.

“Masyarakat butuh transparansi. Kalau jelas penanganannya, kepercayaan bisa kembali. Itu yang paling mahal,” katanya.

Lebih lanjut, Usman menyoroti lamanya proses pengungkapan kasus yang telah berjalan lebih dari satu bulan tanpa kejelasan signifikan. Ia meminta kepolisian segera memberikan hasil konkret kepada publik.

“Sudah lebih dari satu bulan, harus ada perkembangan yang jelas. Apakah ini murni peretasan atau ada kesalahan dalam sistem IT. Tapi secanggih apa pun teknologi, tetap ada faktor manusia. Artinya, pengawasan harus dievaluasi,” tegasnya.

Ia juga menyinggung kemungkinan pelibatan Mabes Polri apabila penanganan di tingkat daerah dinilai belum optimal.

“Kalau Polda Jambi tidak mampu, sebaiknya diserahkan ke Mabes Polri agar kasus ini cepat terungkap,” tegas Usman.

Sebelumnya, Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan total kerugian akibat dugaan peretasan yang terjadi pada akhir Februari 2026 mencapai Rp143 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp16 miliar telah berhasil dilacak dan saat ini dalam proses pemulihan.

Berdasarkan data sementara, lebih dari 6.000 rekening nasabah terdampak insiden tersebut. Puluhan nasabah bahkan melaporkan saldo rekening mereka berkurang secara tiba-tiba, dengan nominal bervariasi antara Rp5 juta hingga Rp25 juta.

Insiden ini juga beriringan dengan gangguan layanan mobile banking Bank Jambi yang tidak dapat diakses sejak akhir pekan, sehingga memicu kepanikan di tengah masyarakat.

Sejumlah nasabah mendatangi kantor cabang untuk memastikan kondisi saldo mereka secara langsung. Tak sedikit pula yang memilih menarik dana sebagai langkah antisipasi guna menghindari potensi kerugian lebih besar.

Sementara itu, aparat kepolisian melalui Subdit II Perbankan masih terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi guna mengungkap kasus tersebut secara menyeluruh.

scroll to top