JAMBI.(Benuanews.com)– Nama Andika Vicky belakangan ikut terseret dalam polemik yang berkembang terkait persoalan pembayaran pekerjaan antara Rohmadi dan Ritas Maryanto.
Menanggapi sejumlah tudingan yang muncul dalam pemberitaan salah satu media online di Jambi, Vicky akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi.
Vicky secara tegas membantah tuduhan yang menyebut dirinya menjalankan peran ganda maupun terlibat dalam dugaan persengkongkolan antara pihak-pihak yang sedang berselisih.
Menurutnya, posisi yang selama ini dijalankan murni sebagai pekerja lapangan yang ditugaskan mengawasi pekerjaan yang dilaksanakan oleh Rohmadi atas penunjukan dari Ritas Maryanto.
“Saya tidak memiliki kepentingan apa pun dalam persoalan pembayaran ataupun pencairan pekerjaan antara Pak Rohmadi dan Pak Ritas. Posisi saya hanya pekerja yang ditugaskan sebagai pengawas lapangan,” kata Vicky saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, tugas yang diembannya sebatas memastikan pekerjaan berjalan sesuai target dan ketentuan di lapangan. Atas pekerjaan tersebut, dirinya menerima upah sebagaimana pekerja pada umumnya.
“Saya digaji sesuai pekerjaan yang saya lakukan. Bahasa sederhananya saya ini mandor atau pengawas lapangan. Jadi saya bekerja berdasarkan tugas yang diberikan, bukan sebagai pihak yang ikut mengambil keputusan dalam kerja sama mereka,” ujarnya.
Vicky mengaku keberatan dengan narasi yang berkembang seolah dirinya memiliki keterkaitan langsung dengan persoalan bisnis maupun kesepakatan kerja sama yang terjadi antara Rohmadi dan Ritas Maryanto.
Menurutnya, tudingan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas karena dirinya tidak pernah terlibat dalam proses negosiasi, kesepakatan kontrak, maupun pengaturan pembayaran pekerjaan.
“Saya tegaskan tidak ada persengkongkolan. Hubungan saya hanya sebatas hubungan kerja. Saya menerima upah karena bekerja. Sementara kesepakatan pekerjaan itu dilakukan antara Rohmadi dan Ritas Maryanto. Jadi saya tidak paham dari mana tuduhan itu muncul,” tegasnya.
Terkait sorotan mengenai fasilitas operasional yang diterimanya selama bekerja, Vicky menilai hal tersebut merupakan sesuatu yang lazim dalam dunia kerja.
Ia menjelaskan kendaraan operasional, laptop maupun biaya operasional diberikan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan bukan merupakan bentuk keuntungan pribadi.
“Kalau saya diberikan mobil, laptop atau biaya operasional, itu karena memang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan. Semua digunakan untuk kepentingan pekerjaan di lapangan, bukan untuk kepentingan pribadi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Vicky mengaku tidak mengetahui secara rinci mengenai hubungan kontraktual maupun mekanisme pembayaran yang melibatkan PT Karya Perdana Rifani milik Ritas Maryanto dengan pihak lainnya dalam proyek tersebut.
Ia menegaskan bahwa urusan administrasi, kontrak kerja maupun pembayaran berada di luar kewenangannya sebagai pengawas lapangan.
“Saya tidak mengetahui detail perjanjian kerja sama maupun mekanisme pembayaran yang melibatkan perusahaan. Itu bukan ranah saya. Fokus saya hanya memastikan pekerjaan di lapangan berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.
Vicky berharap klarifikasi yang disampaikannya dapat meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat agar tidak menimbulkan persepsi keliru terhadap dirinya.
“Saya hanya pekerja yang menjalankan tugas sesuai tanggung jawab. Jangan sampai ada opini yang menggiring seolah-olah saya terlibat dalam persoalan yang sebenarnya bukan menjadi kewenangan ataupun tanggung jawab saya,” pungkasnya.
(Red)
