Warga Kenten Protes Keras, Air Bersih Diduga Tidak Layak Konsumsi

IMG-20260504-WA0051.jpg

BANYUASIN.(Benuanews.com)-Warga di wilayah Kenten, Kabupaten Banyuasin, melayangkan protes keras terhadap buruknya layanan distribusi air bersih,Dugan yang dikelola oleh Perumda Tirta Betuah.

Keluhan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini akhirnya memuncak melalui aksi damai dengan pemasangan spanduk di sejumlah titik strategis. Aksi tersebut digelar pada Senin (04/05/2026).

Warga menilai kualitas air yang disalurkan tidak layak konsumsi karena kerap berwarna keruh kecokelatan. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu kesehatan, bahkan sempat menimbulkan dampak iritasi pada kulit, serta menghambat aktivitas sehari-hari.

Permasalahan ini dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, meliputi Desa Kenten, Kelurahan Kenten Laut, Kelurahan Kramat Jaya, serta sebagian wilayah Kecamatan Talang Kelapa.

Spanduk “Kawasan Sulit Air”
Salah satu spanduk yang menarik perhatian publik bertuliskan, “Selamat Datang di Kawasan Sulit Air Bersih”. Tulisan ini menjadi simbol kekecewaan mendalam warga atas kondisi yang mereka alami selama belasan tahun tanpa solusi pasti.

Menurut keterangan warga, persoalan distribusi air bersih tersebut telah berlangsung hampir belasan tahun tanpa penyelesaian yang berarti dari pihak terkait.

Arwin, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa pelayanan yang diberikan dinilai sangat lambat dan tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

“Kami sudah menunggu belasan tahun, tapi tidak ada perubahan. Air yang mengalir sering keruh dan terlihat kotor, bahkan saat digunakan menimbulkan dampak iritasi pada kulit,” ujarnya.

Ia menambahkan, masalah ini tidak hanya terjadi di satu lokasi, melainkan mencakup beberapa wilayah layanan Perumda Tirta Betuah yang terdampak langsung.

Tagihan Tetap, Layanan Nol.
Kondisi ini semakin memberatkan warga karena meskipun kualitas air buruk dan distribusi tidak lancar, mereka tetap diwajibkan membayar tagihan air setiap bulan.

“Setiap bulan kami tetap bayar, bahkan bisa lebih dari Rp60 ribu. Tapi air hanya mengalir tiga sampai empat kali dalam sebulan, dan sering mati total saat sedang dipakai,” keluhnya.

Akibat keterbatasan tersebut, warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk membeli air dari pihak ketiga guna memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Harapan dan Dugaan Kelalaian.
Warga berharap pemerintah daerah hingga pusat dapat segera turun tangan untuk menyelesaikan persoalan ini. Mereka juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pelayanan Perumda Tirta Betuah.

Di sisi lain, muncul dugaan kuat adanya kelalaian dalam pengelolaan layanan. Warga menilai pihak pengelola lebih berfokus pada penarikan iuran bulanan dibandingkan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak Perumda Tirta Betuah hingga saat ini belum membuahkan hasil. Dugaan Salah satu orang kantor tersebut berinisial HN melalui no telpon juga melalui via Whatsapps menyatakan belum dapat memberikan keterangan resmi,dan pihak layanan terpadu pun belum memberikan respons hingga berita ini diterbitkan.(☆)

 

scroll to top