*Transformasi Berkelanjutan di Luwu Utara: Memperkuat Perlindungan Anak dan Kemandirian Ekonomi Perempuan di Sektor*

Screenshot_20260226_181456.jpg

LUWU UTARA-Benuanews.com-Kabupaten Luwu Utara mencatat pencapaian penting dalam upaya pemenuhan hak anak dan pemberdayaan ekonomi keluarga petani kakao.

Sejak 2021, kolaborasi antara Save the Children Indonesia dan Perkumpulan Wallacea, dengan dukungan dari MARS, telah menjalankan program Responsible Cocoa Farming untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

Program ini menitikberatkan pada penguatan sistem perlindungan anak berbasis komunitas. Tujuannya adalah mencegah keterlibatan anak dalam pekerjaan berbahaya, sekaligus memastikan terciptanya standar perlindungan anak yang lebih baik.

Keberhasilan inisiatif tersebut terlihat dari terbentuknya 20 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di desa-desa intervensi yang kini berfungsi aktif dalam menangani serta mencegah kasus kekerasan terhadap anak.

Dampak positif ini kemudian mendorong Pemerintah Kabupaten Luwu Utara untuk berkolaborasi dengan para tokoh penggerak atau champion PATBM guna mengaktivasi 40 PATBM tambahan di luar wilayah program melalui pendanaan kabupaten dan desa.

Sinergi tersebut tidak hanya meningkatkan kepekaan masyarakat terhadap isu anak, tetapi juga menjadikan para penggerak komunitas sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengedukasi pengasuhan positif dan mengenali bentuk-bentuk pekerjaan yang berisiko bagi anak.

Langkah nyata pemerintah daerah dipertegas melalui formalisasi Forum Koordinasi PATBM tingkat kabupaten melalui SK Bupati Luwu Utara tahun 2026.

Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk mengoptimalkan peran PATBM dan partisipasi masyarakat dalam perlindungan anak di tingkat desa.

Sejalan dengan penguatan perlindungan anak, aspek kesejahteraan keluarga juga ditingkatkan melalui program GrowHer yang dimulai pada 2022 dengan dukungan GIZ, Grow Asia, dan PISS Agro.

Fokus utama program ini adalah meningkatkan kapasitas perempuan dalam pengambilan keputusan, literasi keuangan, serta pengembangan usaha.

Hingga 2026, tercatat sebanyak 92 Kelompok Simpan Pinjam Desa atau Village Saving and Loan Association (VSLA) telah terbentuk di 29 desa dengan total simpanan mencapai Rp3,6 Miliar.

Dana ini dimanfaatkan secara produktif oleh anggota untuk modal perkebunan, biaya pendidikan anak, hingga pengembangan usaha mandiri.

“Perlindungan anak yang berkelanjutan berakar pada keluarga yang tangguh. Melalui penguatan kapasitas perempuan dalam pengambilan keputusan, literasi keuangan, serta pengembangan usaha, kita tidak hanya sedang menghentikan praktik pekerja anak, tetapi juga membuka jalan bagi masa depan generasi yang lebih sejahtera,” ungkap Senior Manager Agriculture Portofolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa.

Kehadiran VSLA juga menjadi ruang bagi perempuan untuk membangun rasa percaya diri dan solidaritas, seperti yang dialami Linda Sari dari VSLA Macan Desa Rompu yang kini berani menyuarakan pendapatnya dalam rapat-rapat desa.

“Dulu saya mungkin hanya diam, tetapi melalui VSLA, saya menemukan keberanian untuk berbicara. Kini, suara saya tidak hanya terdengar di rumah, tetapi juga bergema di rapat-rapat desa untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik,” ungkap Linda Sari.

Selain aspek finansial, para perempuan peserta program juga mendalami teknik budidaya kakao yang baik atau Good Agricultural Practice (GAP), sehingga mereka mampu memberikan masukan strategis kepada suami terkait pemupukan dan pemangkasan pohon.

Kini, banyak dari mereka yang telah terlibat langsung dalam pengambilan keputusan besar mengenai pengelolaan kebun keluarga.

Pada tahap pengembangan usaha, sebanyak 38 kelompok usaha telah dirintis, mulai dari usaha pembibitan kakao hingga produksi olahan pangan, seperti gula aren cair dan minyak kelapa murni.

Keberlanjutan kelompok-kelompok usaha ini didukung penuh oleh pemerintah desa melalui penyediaan lahan produksi, serta oleh pemerintah daerah melalui fasilitasi perizinan usaha.

Salah satu contoh nyata adalah kelompok bisnis Asoka yang telah menerima hibah peralatan produksi senilai sekitar Rp30 juta dari pemerintah provinsi sebagai bentuk apresiasi atas kemandirian ekonomi yang mereka bangun.

Pencapaian luar biasa ini membuktikan bahwa transformasi berkelanjutan di sektor kakao hanya dapat terwujud melalui sinergi antara perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan.

Program ini tidak hanya membangun ketangguhan keluarga petani hari ini, tetapi juga memastikan masa depan yang lebih aman dan sejahtera bagi generasi mendatang di Bumi La Maranginang.

Dalam sambutannya, Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, sangat mengaperiasi program yang sudah berjalan selama 5 tahun ini dengan melihat capaian yang cukup kongkrit.

Dirinya meminta OPD terkait untuk mengadopsi pendekatan yang telah dilakukan oleh Wallacea, Save The Children atas dukungan MARS dan Grow Asia ini.

Lebih lanjut disampaikan, ada dua hal yang dianggap penting dalam program ini. Pertama, program ini telah menghasilkan sebuah sumber daya yang besar bagi Luwu Utara, yaitu para ibu yang menjadi champion, serta keterlibatan pemerintah desa dan pemerintah daerah yang bisa terlibat langsung.

Kedua, program ini telah menghasilkan banyak pengetahuan melalui modul-modul yang sudah kita susun dan bisa ditempatkan di perpustakaan desa.

“Di Luwu Utara ini punya masalah yang besar dengan kemiskinan yang harus diselesaikan. Ini bisa diadopsi menjadi model dalam penyelesaian kemiskinan. Kami harap, baik MARS, Save the Children maupun Wallacea untuk terus berkomunikasi dengan PATBM yang sudah terbentuk ini,” ucapnya.

“Dengan Chanpion 100 orang, 90 VSLA, maka Dinas Sosial, dan DPMD ini bisa buat sebuah program nanti untuk turun ke masyarakat. Kalau perlu kita SK-kan juga dalam bentuk program yang kita adopsi sendiri menjadi program yang dibiayai APBD,” tutup Bupati.

Sekadar diketahui, Save the Children percaya setiap anak berhak mendapatkan masa depan. Di Indonesia dan di seluruh dunia, Save the Children melakukan apapun yang harus dilakukan, setiap hari dan saat krisis, agar anak-anak mendapatkan pemenuhan hak atas hidup yang sehat, kesempatan untuk belajar, dan perlindungan.

Para pakar di Save the Children senantiasa pergi ke tempat yang paling sulit dijangkau, di mana sangat sulit untuk menjadi anak-anak. Save the Children memastikan kebutuhan unik anak-anak terpenuhi dan suara mereka didengarkan.

Bersama anak-anak, keluarga, dan masyarakat, serta pendukung di seluruh dunia, Save the Children mencapai hasil berkelanjutan untuk jutaan anak.

Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, Save the Children yang pertama dan terkemuka di dunia organisasi independen untuk pemenuhan hak anak, dan mengubah kehidupan dan masa depan bersama. (LHr#)

Editor: Andi Uttang

scroll to top