*Sisi Lain Pengambilan Angle Berita: Ringan, tetapi Bernilai*

Screenshot_20260228_232354.jpg

LUWU UTARA-Benuanews.com-Dalam dunia jurnalistik, ada hal-hal menarik yang acapkali terlupakan oleh seorang penulis berita. Kita terbiasa fokus pada berita-berita berat dengan tenggat waktu yang mencekik. Apalagi kalau sudah menuliskan angka-angka statistik yang terkadang malah mengundang diskursus publik.

Menulis berita yang berat dengan angka-angka statistik pasti menguras energi ekstra. Kita dipaksa terlalu fokus pada angka-angka. Bagus kalau angka-angka ini mudah diolah. Kalau angka-angkanya sudah memasukkan data-data pembanding, pastinya kita dibuat bergetar dan “merinding”.

Namun, di balik berita-berita berat yang acapkali diperhadapkan kepada teman-teman pencari berita alias wartawan, atau spesifik kepada para pelakon kerja-kerja kehumasan pada berbagai lembaga pemerintahan, terdapat seni tingkat tinggi yang sering terlupakan sama sekali.

Apakah itu? Yakni kemampuan menemukan sudut pandang (angle) berita yang ringan, namun memiliki bobot nilai yang tinggi. Dalam dunia jurnalistik ada namanya nilai berita. Kita tentunya paham, berita politik, kriminal, bencana, dan perselingkuhan masuk kategori berita bernilai.

Ironisnya, kita kurang bisa menggali begitu mendalam tentang peristiwa. Apalagi dalam peristiwa itu ada seorang tokoh yang bisa dielaborasi, “diburu”, dan diterjemahkan keterlibatannya, agar tulisan kita bisa lebih hidup, lebih menarik, serta tidak terkesan formalitas, dan monoton.

Nah, di sinilah kejelian kita dalam menangkap sudut pandang apa yang coba kita hidupkan. Hanya dari sebuah peristiwa, terkadang ada sudut pandang yang tersembunyi di balik eksklusivitas dari sebuah peristiwa formalitas. Hal-hal ringan yang tersembunyi inilah yang harus dimunculkan.

Berita yang ringan, tetapi bernilai harusnya diburu dengan rasa dan kejelian. Penulis yang lihai, tidak hanya melihat “apa” yang terjadi, tetapi juga “apa” yang tersembunyi di baliknya. Jangan hanya terpaku pada peristiwa, tetapi cobalah mengintip hal-hal ringan, tetapi menarik dielaborasi.

Mengambil angle yang ringan ibarat kita melihat sebuah ruangan besar melalui lubang kunci. Kita tidak perlu memperlihatkan seluruh isi ruangan untuk memberi tahu kepada pembaca betapa megahnya tempat itu. Cukup kita fokus pada satu detail kecil yang memiliki resonansi besar.

Saat ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Luwu Utara tengah melaksanakan “roadshow” keagamaan yang dibungkus dalam kemasan “Safari Ramadan”. Sejauh ini, Safari Ramadan Pemda Luwu Utara banyak memunculkan hal-hal ringan, tetapi justru malah menarik untuk dipublikasikan.

Setidaknya, saya mencatat melalui cara menggulir layar HP, ada tiga aktivitas menarik Bupati pada Safari Ramadan kemarin. Pertama, saat Bupati jadi Imam Tarawih. Kedua, saat Bupati berbincang santai dengan anak-anak. Ketiga, saat Bupati memborong takjil dan dibagi gratis kepada warga.

Tiga aktivitas Bupati ini terbilang ringan, tetapi sangat menarik dielaborasi lebih jauh, karena ada pesan yang jauh lebih elegan untuk diketahui publik, yaitu melihat sisi humanis seorang pemimpin yang tetap rendah hati, egaliter, inklusif, serta tidak berjarak dengan warga kecil sekalipun.

Tanpa mengecilkan makna dari pesan-pesan religius yang disampaikan Bupati, saya justru lebih tertarik terhadap hal-hal ringan seperti itu. “Suara gesekan sapu lidi di jalanan saat fajar, menjadi penguat narasi tentang kebersihan daripada sekadar angka-angka statistik tonase sampah”.

Ini bermakna bahwa hal-hal kecil bisa menjadi episentrum kekaguman luar biasa ketimbang hal-hal berat yang malah dapat menciptakan ambiguitas kolektif. Sekaligus mengonfirmasi bahwa kita tak harus teriak untuk didengar, karena terkadang bisikan jujur justru jauh lebih bergema. (LHr#)

Jurnalis: Lukman Hamarong

scroll to top