Sampah Dapur Tak Lagi Berakhir di Tempat Sampah: Cerita Ecoenzyme di Nagari Tarantang

FOTO-COVER-ECO-ENZYME.jpg-scaled.jpeg

Benuanews, Limapuluhkota, 02/06/2026 – Biasanya, kulit buah dan sisa sayuran hanya punya satu “takdir”: dibuang. Padahal, setiap hari jumlahnya tidak sedikit dan akhirnya menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di Nagari Tarantang, yang dikenal sebagai desa wisata, persoalan sampah organik ini cukup terasa. Sekitar 70 persen sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik rumah tangga.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN bersama masyarakat Nagari Tarantang mencoba melakukan hal sederhana tapi bermakna: mengolah sampah dapur menjadi ecoenzyme.

Ecoenzyme adalah cairan hasil fermentasi dari sisa kulit buah atau sayuran yang dicampur dengan gula dan air. Prosesnya tidak ribet, bahannya mudah ditemukan, dan bisa dibuat langsung di rumah. Meski sederhana, manfaatnya banyak mulai dari pembersih alami, pupuk cair, hingga penghilang bau.

Kegiatan pembuatan ecoenzyme ini dilaksanakan di Aula Kantor Wali Nagari Tarantang dan diikuti sekitar 20 orang peserta. Sejak awal kegiatan, suasana sudah terasa hangat dan akrab. Peserta tidak hanya datang untuk mendengar materi, tetapi juga ingin benar-benar mencoba.

Setelah penjelasan singkat tentang masalah sampah organik dan pengenalan ecoenzyme, peserta langsung diajak praktik. Dengan perbandingan bahan 1:3:10, peserta mencampurkan gula merah, sisa kulit buah atau sayuran, dan air ke dalam wadah. Prosesnya sederhana, tapi justru di situlah letak daya tariknya.

Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif bertanya dan berdiskusi. Banyak yang baru menyadari bahwa sampah dapur yang selama ini dibuang begitu saja ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna.

Ibu Rita selaku Ketua KPM turut menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami untuk mengurangi sampah organik. Selama ini sampah dapur langsung dibuang, sekarang kami jadi tahu kalau bisa diolah dan dipakai kembali,” ungkapnya.

Kutipan ini mencerminkan respons masyarakat yang mulai melihat sampah dari sudut pandang berbeda bukan lagi sebagai masalah semata, tetapi sebagai peluang.

Tidak hanya membuat ecoenzyme, peserta juga dibekali pengetahuan tentang cara perawatan selama fermentasi, tanda ecoenzyme yang berhasil, serta berbagai kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan hal-hal kecil seperti cara mengatasi bau, jamur, atau munculnya belatung juga ikut dibahas dengan santai dan terbuka.

Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Yang tertinggal bukan hanya botol berisi campuran ecoenzyme, tetapi juga kesadaran baru tentang pentingnya mengelola sampah dari rumah sendiri.

Program ecoenzyme di Nagari Tarantang menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Dari dapur rumah, dari sampah yang selama ini dianggap sepele, perubahan bisa dimulai.

Harapannya, praktik sederhana ini bisa terus diterapkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Ketika sampah organik berkurang dan kesadaran lingkungan meningkat, Nagari Tarantang tidak hanya dikenal sebagai desa wisata, tetapi juga sebagai nagari yang peduli dan bijak dalam mengelola lingkungannya

scroll to top