*Luwu Utara Genjot Pembangunan Jalan di Wilayah 3T: Upaya Strategis Memutus Rantai Kemiskinan*

Screenshot_20260215_162449.jpg

LUWU UTARA-Benuanews.com-Meski penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara terus menunjukkan tren positif, di mana sejak 2022 lalu, angka kemiskinan terus mengalami penurunan hingga 2025, tetapi jumlah penduduk miskin Luwu Utara terbilang masih cukup tinggi, sekitar 36 ribu jiwa.

Tren penurunan ini dapat dilihat dalam buku “Luwu Utara Dalam Angka” yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Utara setiap tahun. Di mana sejak tahun 2022, angka kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara terus mengalami tren penurunan yang cukup signifikan.

Untuk diketahui, persentase angka kemiskinan tertinggi di daerah berjuluk Bumi La Maranginang ini terjadi pada 2021, yaitu 13,59 persen, yang menyebabkan Luwu Utara tak pernah keluar dari zona 3 besar daerah termiskin di Sulsel. Stigma sebagai daerah termiskin pun selalu melekat.

Angka 13,59 persen yang terjadi pada 2021 ini merupakan persentase angka tertinggi kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara. Faktor-faktor yang memengaruhi tingginya angka kemiskinan di Luwu Utara adalah terjadinya pandemi COVID-19 dan bencana banjir bandang pada tahun 2020 lalu.

Tahun 2022 adalah titik di mana lonjakan angka kemiskinan berhasil diturunkan dengan berbagai kebijakan dan intervensi yang dilakukan Pemda Luwu Utara. Dari 13,59 persen di 2021 menjadi 13,22 persen di tahun 2022. Angka ini kembali turun menjadi 12,66 persen di tahun 2023 lalu.

Pada tahun 2023 inilah, Luwu Utara berhasil keluar dari tiga besar daerah termiskin di Sulsel. Sebuah capaian bersejarah yang membuktikan bahwa program pengentasan kemiskinan terus berjalan. Diketahui, Luwu Utara cukup lama berada dalam kubangan 3 besar daerah termiskin.

Tren penurunan terus berlanjut pada tahun 2024. Di mana pada tahun tersebut, persentase angka kemiskinan berada pada angka 11,24 persen. Angka 11,24 persen ini merupakan penurunan terendah dari angka kemiskinan sejak Kabupaten Luwu Utara terbentuk pada tahun 1999 silam.

Kendati demikian, persentase angka kemiskinan 11,24% ini, atau 36 ribu penduduk yang masih berada pada garis kemiskinan, terbilang masih cukup tinggi. Sehingga Pemda Luwu Utara masih memiliki banyak PR untuk kembali menurunkan angka kemiskinan di tahun-tahun mendatang.

Di bawah nakhoda Andi Abdullah Rahim yang baru setahun menjabat sebagai Bupati, rupanya telah berhasil mengeluarkan Luwu Utara dari zona tiga besar daerah termiskin di Sulsel, dengan capaian fenomenal, yakni penurunan terendah angka kemiskinan sejak Luwu Utara terbentuk.

Namun, Bupati sepertinya masih melihat angka kemiskinan terbilang masih cukup tinggi. Dirinya pun terus memperlihatkan komitmen dan keseriusannya untuk kembali memperkuat program-program pengentasan kemiskinan. Salah satunya, menggenjot pembangunan infrastruktur jalan di wilayah-wilayah 3T, (terpencil, terisolir, dan tertinggal), seperti Rongkong, Seko, dan Rampi.

Saat melakukan audiensi dengan Bappenas dan PB Taskin beberapa waktu lalu, Bupati Andi Rahim membeberkan sejumlah strategi pengentasan kemiskinan. Salah satu yang ia ungkapkan adalah
mengurangi kantong-kantong kemiskinan di wilayah 3T dengan intervensi pembangunan jalan.

Langkah tersebut diambil sebagai strategi utama untuk membuka aksesibilitas perekonomian dan pengentasan kemiskinan ekstrem di tiga wilayah pegunungan tersebut. Menurutnya, konektivitas antarwilayah merupakan kunci utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tanpa akses jalan yang memadai, kata dia, potensi komoditas unggulan dari wilayah terpencil sulit untuk dipasarkan dengan harga yang kompetitif. “61,36% kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara disumbangkan oleh daerah gunung, dan persoalan utamanya adalah akses jalan,” ungkapnya.


Akibat kondisi akses jalan yang belum memadai tersebut memberikan efek domino yang cukup signifikan di tiga wilayah itu. Di mana harga bahan bangunan dan kebutuhan pokok mahal, biaya transportasi juga mahal, banyak rumah yang tidak layak huni, serta variasi makanan tidak banyak. Sehingga warga tidak banyak opsi untuk mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi.

“Nah, dengan pembangunan akses jalan di wilayah pegunungan ini, akan berdampak pada banyak hal yang positif, yaitu pertumbuhan ekonomi makin meningkat, mempermudah distribusi barang kebutuhan pokok, sehingga harga di wilayah 3T bisa lebih stabil lagi,” jelas Bupati Andi Rahim.

Untuk itu, di hadapan Bappenas dan PB Taskin, Bupati Andi Rahim membeberkan beberapa upaya strategis pemda untuk mengintervensi wilayah-wilayah tersebut dengan membangun akses jalan baru menuju Rongkong, Seko, dan Rampi. Salah satunya pembangunan jalan aspal di Rongkong.

Tak hanya itu, untuk menggenjot pembangunan infrastruktur jalan di Rongkong, Seko, dan Rampi, alumnus Fakultas Teknik Unhas ini kembali mengusulkan pembangunan 20 ruas jalan pemerintah pusat melalui Bappenas dan PB Taskin dengan total jumlah anggaran Rp492 Milyar lebih.

“Usulan pembangunan 20 ruas jalan ini bertujuan agar akses jalan menuju daerah pegunungan tersebut, termasuk sentra-sentra ekonomi, segera terpenuhi untuk menurunkan kembali angka kemiskinan di Kabupaten Luwu Utara yang terus mengalami progres yang lebih baik,” imbuhnya.

“Infrastruktur ini bukan hanya soal aspal semata, tetapi juga soal kemanusiaan. Dengan jalan yang layak, anak-anak kita bisa bersekolah dengan aman, dan hasil bumi warga tidak lagi busuk di jalan karena kendala transportasi,” pungkas orang nomor satu di Kabupaten Luwu Utara ini. (LHr#)

scroll to top