*Kampanye “Ramadan Tanpa H” Sukses, Literasi Publik Berbuah Bermanis*

Screenshot_20260318_085251.jpg

LUWU UTARA-Benuanews.com-Ada pemandangan yang menyejukkan mata saya sepanjang bulan Ramadan tahun ini. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, Ramadan tahun ini boleh dikatakan literasi publik berjalan dengan baik, kalau tidak bisa dikatakan berhasil. Hal itu bisa dilihat di lini masa media sosial.

Literasi yang saya maksud di sini adalah terkait dengan penulisan frasa “Ramadan tanpa huruf H”. Bertahun-tahun lamanya kita acapkali terjebak dalam sebuah perdebatan tentang penulisan kata “Ramadan” yang sesuai dengan standar literasi bahasa Indonesia yang baku.

Dalam pegamatan saya sejauh ini di seluruh platform media sosial, hampir seluruh entitas publik, termasuk lembaga pemerintah, sebagian besar sudah nyaman dengan penulisan kata “Ramadan” ketimbang “Ramadhan”. Sebuah perubahan kecil yang fundamental tentunya.

Dahulu banyak yang menuliskan kata “Ramadhan”, kini berubah menjadi “Ramadan”. Kebiasaan yang telanjur dibenarkan itu kini dipahami sebagai sebuah kekeliruan dalam berbahasa tulis dan berbahasa tutur. Tahun ini, kita melihat konsensus visual yang begitu luar biasa.

Pemerintah, lembaga negara, organisasi kemasyarakatan, hingga korporasi besar tampak sudah “satu frekuensi” dalam mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baku, yakni RAMADAN TANPA H. Ini membuktikan kemampuan literasi kita berjalan sesuai koridor yang benar.

Tentu banyak yang bertanya, apa sih bedanya antara “Ramadan” dan “Ramadhan”? Toh, juga maknanya tetap sama. Secara esensi ibadah, memang tidak berubah. Namun sebaliknya, dari sisi integritas berbahasa, ini adalah kemenangan terbesar bagi literasi nasional kita.

Sebagai orang Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia, tentu kita dituntut patuh terhadap KBBI yang menjadi pedoman hidup orang Indoensia dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Kepatuhan terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sifatnya absolut.

Sebagai contoh, penyerapan istilah bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia itu memiliki kaidah tertentu. Konsonan ganda seperti “dh” dalam bahasa Arab seringkali disederhanakan menjadi “d” agar selaras dengan sistem fonetik kita. Ini yang berlaku pada kata “Ramadan”.

Nah, menulis kata “Ramadan” tidak berarti mengurangi nilai-nilai religiusitas kita. Sebaliknya, akan menunjukkan bahwa kita bangga memiliki tata bahasa yang baku dan mapan, yang menjadi pedoman kita dalam berbahasa, baik berbahasa tulis maupun berbahasa tutur.

Keseragaman ejaan akan menghilangkan kebingungan administratif. Saat pemerintah dan rakyat menggunakan istilah yang sama, sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar (Ramadan), maka ada kesan keteraturan penulisan dan kecerdasan kolektif yang terpancar.

Masifnya penggunaan ejaan yang tepat di tahun 2026 ini tentu tidak terjadi dalam semalam. Ini hasil dari edukasi berkelanjutan yang dilakukan para pemerhati bahasa, media massa yang disiplin (sebut saja Palopo Pos), termasuk peran aktif mereka yang peduli terhadap bahasa.

Kita melihat poster-poster ucapan selamat dari kementerian, baliho di sudut kota, hingga caption para influencer kini jauh lebih bersih dari huruf “h” yang menyelip di tengah kata “Ramadan”. Ini bukti masyarakat mau belajar, asal ada keteladanan dari lembaga-lembaga formal.

Langkah kecil dalam penulisan mencerminkan hal yang lebih besar, yakni penghargaan terhadap bahasa nasional. Jika hal kecil saja kita bisa disiplin, maka semangat disiplin yang sama seharusnya dapat kita bawa saat kita menjalankan ibadah suci Ramadan tahun ini.

Selamat menjalankan ibadah suci Ramadan, dan selamat menyambut hari kemenangan Idulfitri 1447 Hijriah, dengan hati yang bersih, jiwa yang besar, serta ejaan bahasa yang benar. Ini bukan tentang siapa yang benar, tetapi ini tentang beriman terhadap bahasa Indonesia. (LHr#)

scroll to top