CIHARA, LEBAK Benuanews.com Momentum Lebaran 2026 menjadi panggung penting bagi masa depan calon Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Cilangkahan. Ratusan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung dalam KAHMI, yang datang dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Lampung, berkumpul di Pantai Pasir Putih Cihara dalam tajuk “Silaturahmi dan Halal bi Halal Insan Cita Pakidulan”.
Pertemuan ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan sebuah gerakan konsolidasi potensi sumber daya manusia (SDM) yang terserak. Para alumni yang kini berprofesi sebagai akademisi, praktisi hukum, teknokrat, hingga pengusaha, sepakat menyatukan visi untuk mengawal lahirnya Kabupaten Cilangkahan agar menjadi daerah yang mandiri dan bermatabat.
Ketua Komunitas Kamus Sunda Banten sekaligus tokoh pendidik, Ocit Abdurrosyid Siddiq, yang hadir dalam pertemuan tersebut dalam orasi ilmiahnya menekankan bahwa otonomi daerah adalah manifestasi dari kehendak bebas (free will) sebuah komunitas untuk menentukan nasibnya sendiri.
“Kami yang dulu ditempa di berbagai disiplin ilmu dan berbagai kampus di seluruh Indonesia, kini terpanggil secara moral, sosial, dan politik. Potensi yang terserak ini harus dihimpun dalam satu wadah visi agar pembangunan Cilangkahan tidak gagap. Kita tidak ingin Cilangkahan sekadar menjadi administratif geografis, tapi harus menjadi entitas peradaban yang menyejahterakan rakyatnya,” ujar Ocit dalam orasinya yang reflektif-kontemplatif.
Dalam acara tersebut, dibacakan pula “Deklarasi Cihara”, sebuah manifes khidmah yang menegaskan komitmen KAHMI untuk menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah dalam mengelola sumber daya alam (SDA) dan manusia di wilayah Banten Selatan. KAHMI juga mulai memetakan kepakaran para alumninya dalam lima klaster strategis: Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi Maritim, Infrastruktur, Pendidikan, dan Visi Etis-Budaya.
Langkah ini diambil agar saat otonomi resmi diketuk, putra-putri daerah sudah siap dengan “Buku Putih” pembangunan yang saintifik. “Urang kudu masagi, ulah nepika poekeun obor di imah sorangan (Kita harus serba bisa, jangan sampai kehilangan pelita di rumah sendiri),” tambah Ocit menutup pernyataannya.
Pertemuan di pesisir Cihara ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh elemen masyarakat Cilangkahan untuk bersinergi menyongsong fajar kemandirian yang telah lama dinantikan.(B)