HUT RI ke-81, Tiga Siswa SMAIT Darul Fikri Makassar Jadi Paskib Kota

IMG-20260817-WA0125.jpg

MAKASSAR-Benuanews.com-Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Darul Fikri Makassar berlangsung khidmat dan penuh makna. Momentum peringatan kemerdekaan tahun ini tidak hanya diisi dengan upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih, tetapi juga menjadi kesempatan untuk meneguhkan semangat kebangsaan, pendidikan karakter, serta apresiasi terhadap prestasi para murid.

Bagi keluarga besar SIT Darul Fikri Makassar, peringatan 17 Agustus bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Hari Kemerdekaan menjadi momentum untuk kembali mengingat perjuangan para pahlawan sekaligus merefleksikan tanggung jawab generasi muda dalam mengisi kemerdekaan melalui ilmu pengetahuan, akhlak, prestasi, kepemimpinan, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Salah satu capaian yang menjadi kebanggaan sekolah pada HUT ke-81 RI tahun ini adalah keterlibatan tiga murid SMAIT Darul Fikri Makassar sebagai perwakilan sekolah dalam Pasukan Pengibar Bendera (Paskib) tingkat Kota Makassar.

Ketiga murid tersebut yakni Firyal Luthfiyah S, Najla Luthfiah, dan Keysha Ashira Nafeeza Fadly.

Ketiganya mendapat kepercayaan untuk menjalankan tugas sebagai bagian dari pasukan pengibar bendera dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat Kota Makassar.

Keikutsertaan tiga murid tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SIT Darul Fikri Makassar. Mereka tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama sekolah dan keluarga dalam sebuah tugas yang membutuhkan kedisiplinan, ketangguhan, kekompakan, kesiapan fisik dan mental, serta rasa tanggung jawab.

Keterlibatan mereka juga menjadi gambaran bahwa proses pendidikan di SMAIT Darul Fikri Makassar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendidikan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, keberanian mengambil peran, serta kemampuan bekerja sama menjadi bagian penting dalam mempersiapkan murid menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.

Upacara Menjadi Momentum Refleksi

Di lingkungan SIT Darul Fikri Makassar, upacara HUT ke-81 RI diikuti keluarga besar sekolah dengan penuh khidmat.

Pengibaran Merah Putih menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun, lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan merupakan amanah yang harus diisi dengan kontribusi positif.

Bagi dunia pendidikan, semangat tersebut memiliki makna yang sangat penting. Sekolah tidak hanya bertugas membekali generasi muda dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter agar mereka memiliki integritas, akhlak, tanggung jawab, kesadaran kebangsaan, serta keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan kebenaran.

Kemerdekaan juga perlu dimaknai secara lebih luas. Merdeka bukan hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab.

Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk bertanya, berpikir kritis, berdialog, menganalisis informasi, melihat berbagai perspektif, serta mengambil kesimpulan berdasarkan bukti dan ilmu pengetahuan.

Ketua Yayasan Tekankan Pentingnya Kemerdekaan Berpikir

Ketua Yayasan Darul Fikri Makassar, Rasyidin Adnan, turut menyampaikan refleksi mengenai makna kemerdekaan, khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan dan kemerdekaan berpikir.

Menurutnya, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini perlu terus melakukan refleksi terhadap kualitas generasi yang sedang dipersiapkan.

Kemerdekaan, kata dia, tidak seharusnya berhenti pada simbol dan perayaan. Kemerdekaan harus diwujudkan melalui lahirnya manusia Indonesia yang mampu berpikir sehat, kritis, objektif, dan bertanggung jawab.

«“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melahirkan manusia-manusia yang merdeka pikirannya. Berpikir merdeka bukanlah berpikir tanpa batas atau mempertahankan ego, melainkan keberanian menggunakan akal sehat untuk mencari bukti, mempertimbangkan perspektif, dan tunduk kepada kebenaran,” ungkap Rasyidin Adnan.»

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan memiliki posisi penting dalam mengisi kemerdekaan.

Generasi muda perlu diberikan ruang untuk bertanya dan berdiskusi. Mereka juga perlu dilatih untuk menguji informasi, memahami perbedaan perspektif, menggunakan akal sehat, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan ilmu, bukti, nilai moral, dan tanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan Islam, kemerdekaan berpikir tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai akhlak dan ketundukan kepada kebenaran.

Kebebasan bukan berarti bebas tanpa arah. Sebaliknya, kebebasan berpikir harus menjadi kemampuan untuk menggunakan nalar dengan penuh tanggung jawab serta tetap menjunjung tinggi nilai kebenaran dan akhlak.

Tiga Murid, Satu Amanah untuk Membawa Nama Sekolah

Keterlibatan Firyal Luthfiyah S, Najla Luthfiah, dan Keysha Ashira Nafeeza Fadly dalam Paskib tingkat Kota Makassar menjadi contoh nyata bagaimana semangat kemerdekaan diwujudkan melalui tindakan.

Ketika ketiganya menjalankan tugas membawa amanah sebagai bagian dari pasukan pengibar bendera, murid-murid lainnya di lingkungan SIT Darul Fikri Makassar mengikuti upacara dengan semangat yang sama.

Dua momentum tersebut menjadi satu pesan penting bahwa kemerdekaan harus diwariskan melalui karakter dan diisi dengan prestasi serta kontribusi.

Prestasi murid bagi SIT Darul Fikri Makassar bukan semata-mata tentang mendapatkan penghargaan atau menjadi juara. Lebih jauh, prestasi merupakan bagian dari proses pembentukan karakter.

Di balik sebuah prestasi terdapat latihan, kedisiplinan, daya juang, keberanian, ketekunan, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, serta kesediaan untuk bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.

Karena itu, keberhasilan tiga murid SMAIT Darul Fikri Makassar menjadi bagian dari Paskib tingkat Kota Makassar diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi murid lainnya untuk berani mengambil kesempatan, mengembangkan potensi, dan memberikan kontribusi terbaik.

Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Akhlak

Peringatan HUT ke-81 RI di SIT Darul Fikri Makassar pada akhirnya menjadi ruang untuk menghubungkan sejarah perjuangan bangsa dengan tantangan generasi masa kini.

Generasi terdahulu berjuang merebut kemerdekaan dengan pengorbanan yang besar. Sementara generasi saat ini memiliki tugas untuk menjaga, merawat, dan mengisi kemerdekaan tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat.

Ilmu pengetahuan, pendidikan, akhlak, inovasi, prestasi, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap masyarakat menjadi bagian dari bentuk perjuangan generasi masa kini.

Sekolah menjadi salah satu tempat penting untuk menanamkan nilai tersebut sejak dini. Melalui lingkungan pendidikan yang baik, para murid diharapkan tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu menggunakan ilmunya untuk memberikan manfaat.

Dari halaman sekolah hingga panggung pengabdian di tingkat kota, semangat tersebut terus ditanamkan kepada para murid SIT Darul Fikri Makassar.

Keterlibatan tiga murid SMAIT Darul Fikri Makassar dalam Paskib tingkat Kota Makassar menjadi salah satu contoh bahwa anak-anak muda memiliki ruang untuk berkontribusi dan membawa nama baik sekolah.

Sementara upacara di lingkungan sekolah menjadi pengingat bagi seluruh murid bahwa kemerdekaan memiliki tanggung jawab besar yang harus dilanjutkan.

Pada akhirnya, kemerdekaan sejati bukan hanya tentang berkibarnya Merah Putih di tiang tertinggi. Kemerdekaan juga tentang lahirnya generasi yang mampu berdiri tegak dengan ilmu, akhlak, keberanian, tanggung jawab, dan pikiran yang merdeka.

HUT ke-81 Kemerdekaan RI di SIT Darul Fikri Makassar pun menjadi momentum untuk terus menghidupkan semangat tersebut: menghormati perjuangan masa lalu, membangun karakter hari ini, dan mempersiapkan generasi yang mampu memberikan kontribusi terbaik bagi masa depan Indonesia.(FAW#)

SIT Darul Fikri Makassar — Al Qur’an Akhlaknya, Gemilang Prestasinya.

scroll to top