Tahun 2021 Ganjar Pranowo Naikan UMP 3,27 %, Bisa Menjadi Contoh Bagi Provinsi Lainya.

WhatsApp-Image-2020-10-31-at-17.12.09.jpeg
Semarang-Jawa Tengah (Benuanews.com) — Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah menaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar 3,27 persen pada tahun 2021. Tidak mengikuti Surat Edaran dari Kemenaker bahwa UMP 2021 sama dengan UMP tahun 2020. Keputusan Gubernur didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang pengupahan. Kenaikan UMP menggunakan pertumbuhan ekonomi dan perhitungan inflasi.Keputusan Gubernur juga berdasarkan hasil meeting dengan Dewan Pengupahan, serikat buruh dan Apindo. Keputusan ini dapat menjadi pedoman penetapan UMK di masing masing kabupaten/kota. “Kepala daerah dapat menyusun UMK sampai batas waktu 21 November 2020”, katanya di rumah dinasnya pada Jumat (30/10/2020).Kenaikan UMP Jawa Tengah sebesar Rp. 56.963,9 sehingga total UMP menjadi Rp. 1.798.979,12. Ganjar juga menyatakan kenaian UMK di tiap daerah berbeda-beda, seperti di Kabupatehn Banjarnegara kenaikan UMK sebesar Rp. 50.979,12 dan Kabupaten Wonogiri menaikan UMK sebesar Rp. 1.979,12.Di tempat terpisah Sakina Rosellasari Kepala Dinas Tenaga Kerja Tawa Tengah mengatakan “Berdasarkan UMP Jateng 2021 maka untuk Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonogiri harus menyesuaikan. UMP menjadi patokan untuk menentukan UMK di dua kabupaten itu. Karena UMP Wonogiri tahun 2020 hanya sebesar Rp. 1.797.000 dan Banjarnegara tahun 2020 sebesar Rp. 1.748.000” katanya pada Jumat (30/10/2020).Sementara Said Iqbal sebagai Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyatakan “Langkah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Panowo untuk menaikan UMP 2021 sudah tepat” katanya kepada CNBC Indonesia. “Guabernur Jateng sudah benar nggak perlu mengikuti surat edaran Kemenaker yang sifatnya imbauan. Dalam peraturan perundangan tidak dikenal Surat Edaran. Kalau patokan upah minimum ya UU Cipta Kerja, tapi kan UU Cipta kerja belum berlaku” pungkasnya.Kontributor:barry

Longsor Terjadi Dibeberapa Titik Kecamatan Tanjung Raya dan Menututup Jalan

WhatsApp-Image-2020-10-31-at-18.09.13.jpeg
Lubuk Basung (benuanews.com) — Hujan deras yang terjadi di Kabupaten Agam mengakibatkan terjadi longsor dibeberapa titik di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam Sumatera Barat, material longsor yang menimbun jalan raya sempat tidak bisa dilewati kendaraan.Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam, Muhammad Lutfi Ar di Lubukbasung, Sabtu, mengatakan tanah longsor terjadi di Tanjung Alai, Nagari Koto Malintang satu titik sepanjang 15 meter dan tinggi 1,5 meter.“Akses lalu lintas dari Lubukbasung menuju Bukittinggi tidak dapat dilalui kendaraan,” katanya.Kemudian di Anak Aia, Jorong Muko-muko, Nagari Koto Malintang satu titik tanah longsor sepanjang 20 meter dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.Setelah itu, tanah longsor juga melanda Pantas, Nagari Tanjung Sani dua titik mengakibatkan jalan tertimbun lumpur sepanjang 25 meter.Selain itu, tanah longsor masuk rumah warga milik Deni Harianto (45) dan Syafri (64).Tanah longsor juga melanda Sungai Tampang, Nagari Tanjung Sani satu titik sepanjang 25 meter.Selain tanah longsor, luapan air juga terjadi di Galapuang, Nagari Tanjung Sani.“Ini data sementara yang kita peroleh dari warga sekitar dan total kerugian belum diketahui,” katanya.Ia menambahkan, saat ini anggota Satgas sudah menuju lokasi untuk mendata dan membersihkan material longsor menimbun jalan. Pembersihan material itu membutuhkan alat berat.Tanah longsor itu akibat curah hujan cukup tinggi melanda daerah itu semenjak pukul 13.00 WIB dan tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu.Setelah dilakukan pembersihan bersama dengan Tim Gabungan di Lapangan, untuk akses jalan sudah dapat dilewati oleh kendaraan R2 dan R4 dengan sistim buka tutup pada pukul 17.40 WIB.Kontributor : Eko

Terjebak di Manhole Tongkang, Pencari Besi Tua Meninggal Dunia

WhatsApp-Image-2020-10-31-at-13.36.56.jpeg
Muara Jambi,(benuanews.com) — Seorang pencari besi tua Reza (30) ditemukan meninggal dunia di dalam sebuah Tongkang yang sedang bersandar di perairan Sungai Batang Hari, Desa Kunangan, Kecamatan Taman Rajo, Muaro Jambi.Tubuh korban Reza ditemukan berada di dalam manhole (lubang) Tongkang BGM seri 30011 sekira pukul 11.30 WIB, Jumat (30/10),Kuat dugaan korban terjebak di dalam manhole sehingga kehabisan oksigen lalu akhirnya meninggal dunia.Kapolres Muaro Jambi AKBP Ardiyanto melalui Kasubbag Humasnya AKP Amradi ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penemuan mayat di dalam Tongkang tersebut. “ Iya, benar. Korban sudah dievakuasi dan diserahkan ke pihak keluarga,” kata Amradi, saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.Penemuan mayat itu bermula saat anak buah kapal (ABK) melakukan pembersihan air yang ada di dalam tongkang melalui lubang utama atau Manhole. Pembersihan itu dilakukan tiga orang ABK sejak pagi hingga istirahat makan siang.“ Selesai istirahat sekitar pukul 12.30, salah satu dari ABK itu akan menghidupkan mesin penyedot. Namun, tidak jadi dilakukan karena salah satu dari mereka melihat sandal di dekat lubang manhole,” ujar Amradi.Temuan itu lantas diberitahukan kepada ABK lainnya dan dilakukan pengecekan ke dalam lubang manhole mengunakan senter,dengan menggunakan penerangan senter itu mereka dapat melihat jelas ada baju di tangga paling bawah.Mereka lalu mencoba memanggil-manggil untuk memastikan orang yang ada di bawah. Namun, panggilan tersebut tidak direspon. Tidak mau mengambil risiko, temuan tersebut akhirnya dilaporkan ke pihak berwenang.Polisi bersama Dit Airud, TNI dan Basarnas langsung turun ke lokasi. Mayat korban kemudian dievakuasi. Saat proses evakuasi berlangsung ada seseorang dari keluarga korban yang mengaku bahwa mayat tersebut adalah saudaranya.“ Ada adik korban yang mengakui kalau mayat itu adalah kakaknya. Identitas korban akhirnya diketahui,” kata Amradi.Proses evakuasi baru berakhir sekira pukul 18.12 WIB. pihak keluarga korban tidak mau melakukan proses autopsi tersebut dan jenazah Reza langsung di bawa kerumah duka.Kontributor : Eko

Masyarakat Kampung Seupang Desa Pajagan Kabupaten Lebak Pertanyakan Data Ampresial

WhatsApp-Image-2020-10-31-at-01.18.18.jpeg
Lebak (benuanews.com) — Masarakat mempertanyakan hasil data yang di bawa team apresial yang terkait tanah masyarakat yang terkena flot Bendungan Karian.(30/10/2020)Menurut Mahrom bahwa dia tidak merasa memiliki tanah yang luasnya 21 Meter “Kalo emang di datanya memiliki luas tanah yang luasnya 21 Meter, harusnya saya punya SPPT nya. Atau pihak desa dan team apresial, bisa menunjukan kepadanya lokasi dan tanah dimana yang seluas 21 meter tersebut”. ujur mahrom saat di jumpai di huntara (hunian sementara) banjir bandang awal 2020.Berbeda dengan pernyataan Harun “Walau di data tersebut,saya ada jumlah tanah yang selisih kekurangan 50 meter dengan SPPT miliknya,tapi ada 1 catatan selain itu bahwa luas tananya 1000 meter lebih. Padahal menurut SPPT nya, yang lain hanya ratusan meter. Walaupun yang didata dari team apresial saya ada yang berkurang dan ada yang bertamabah luas tanahnya,masarakt tidak mengharapkan demikian. mereka cuma inginkan hak mereka yang sesuai SPPT yang mereka miliki, karna urusan tanah itu Rentan, mereka tidak berani main main dengan urusan tanah”. ujur Harun, selaku masarakat setempat..Memang ada ke ganjialan antara data yang di bawa team apresial kemarin, karana NUB yang ada di catatan team apresial tidak sama dengan NOP yang ada di SPPT.Kalou disuruh samain sesuai nama jelas bikin bingung masyarakat. Karna 1 nama bisa memiliki 2 bahkan lebih SPPT nya, itu data yang dari team apresial itu kami sesuaikan dengan nama yang mana SPPT nya. Kecuali ada kode blok tanah atau NOP nya sama dengan SPPT, mungkin masyarakat tidak bingung buat akurin data dari team apresial dengan SPPT masyarakat ujur Juhaedi,Lebih kurang 40 KK yang berada di Kampung Seupang dan masarakat berharap kepada pemerintah setempat supaya bisa menjelaskan secara detail kepada masyarakatnya, agar masyarakat tidak merasa di rugikan dengan data yang memang masyarakat tidak memiliki bidang tanah tersebut.Kontributor : Aguh
scroll to top