Dari Ruang Tamu hingga Panggung Olimpiade

Screenshot_20260224_095606.jpg

Benuanews.com-Tenis meja, atau yang sering dikenal secara umum oleh masyarakat luas sebagai pingpong, adalah salah satu olahraga dengan tempo tercepat dan refleks paling menuntut di dunia. Di balik pukulan smash yang secepat kilat dan putaran bola (spin) yang rumit, olahraga ini memiliki sejarah panjang yang berevolusi dari sekadar permainan santai kaum bangsawan menjadi arena pertarungan atlet-atlet elit dunia.

Lahirnya “Whiff-Whaff” di Era Victoria
Sejarah tenis meja dimulai pada akhir abad ke-19 di Inggris. Pada awalnya, permainan ini bukanlah olahraga kompetitif, melainkan hiburan ruang tamu (parlor game) setelah makan malam bagi kaum kelas atas era Victoria. Mereka menggunakan tumpukan buku sebagai net, memukul bola golf atau simpul benang menggunakan buku lain sebagai raket.
Permainan ini awalnya memiliki banyak nama julukan, seperti whiff-whaff dan gossima. Nama “Ping-Pong” baru mulai populer ketika perusahaan manufaktur Inggris, J. Jaques & Son Ltd, mematenkannya pada tahun 1901.

Nama ini kemudian dibeli oleh Parker Brothers di Amerika Serikat. Karena nama “Ping-Pong” menjadi merek dagang, asosiasi olahraga terpaksa menggunakan istilah umum: Tenis Meja (Table Tennis).
Titik balik profesionalisme olahraga ini terjadi pada tahun 1926 dengan didirikannya Federasi Tenis Meja Internasional (ITTF – International Table Tennis Federation) di Berlin. Pada tahun yang sama, Kejuaraan Dunia Tenis Meja pertama diselenggarakan di London. Olahraga ini kemudian secara resmi dipertandingkan di ajang Olimpiade untuk pertama kalinya pada Olimpiade Seoul tahun 1988.

Pergeseran Takhta Dari Eropa ke Asia
Jika kita melihat peta kekuatan dunia pada awal abad ke-20, negara-negara Eropa seperti Hungaria adalah raja di atas meja. Pemain legendaris seperti Victor Barna dari Hungaria meraih banyak gelar Juara Dunia di era 1930-an.
Namun, peta kekuatan berubah drastis pada dekade 1950-an berkat sebuah inovasi teknologi. Pemain Jepang, Hiroji Satoh, memperkenalkan raket yang dilapisi karet spons tebal pada Kejuaraan Dunia 1952. Inovasi ini mengubah tenis meja selamanya, membuat bola melaju jauh lebih cepat dan memungkinkan pemain menghasilkan spin yang luar biasa. Jepang mendominasi era 50-an berkat inovasi ini dan gaya pegangan penhold (seperti memegang pena).

Memasuki dekade 1960-an, Tiongkok mulai bangkit dan mengambil alih takhta. Dengan sistem pelatihan nasional yang sangat disiplin, inovasi taktik yang terus-menerus, dan regenerasi atlet yang tak pernah putus, Tiongkok membangun “Tembok Besar” dominasi di dunia tenis meja yang bertahan hingga saat ini.
Meskipun demikian, dominasi Tiongkok sempat ditantang keras pada akhir 1980-an hingga 1990-an oleh tim nasional Swedia. Swedia mengembangkan gaya permainan serba bisa yang memadukan topspin kuat dan taktik brilian.

Legenda Masa Lalu dan Bintang Emas Dunia
Beberapa nama telah terukir abadi sebagai legenda tenis meja yang mendefinisikan era mereka masing-masing:
1. Jan-Ove Waldner (Swedia): Sering dijuluki sebagai “Mozart-nya Tenis Meja”. Merupakan pemain non-Tiongkok paling sukses dalam sejarah modern. Waldner meraih emas Olimpiade Barcelona 1992 dan menjadi pemain pertama yang meraih “Grand Slam” tenis meja (Juara Olimpiade, Juara Dunia, dan Piala Dunia).
2. Deng Yaping (Tiongkok): Pemain putri yang mendominasi dekade 1990-an dengan memenangkan empat medali emas Olimpiade dan belasan gelar Kejuaraan Dunia. Walau bertubuh mungil, kecepatan dan agresivitasnya tak tertandingi.
3. Ma Lin, Zhang Jike dan Xu Xin (Tiongkok): Pemain-pemain yang mewakili kejayaan Tiongkok di era 2000-an dan awal 2010-an, menghadirkan permainan fisik yang sangat dinamis.

Sang GOAT dan Generasi Emas Tiongkok
Dalam satu dekade terakhir hingga saat ini, dunia tenis meja disaksikan oleh rekor-rekor fantastis, khususnya melalui satu nama: Ma Long. Ma Long secara luas diakui sebagai Greatest of All Time (GOAT) dalam tenis meja. Ma Long adalah pemain pria pertama yang memenangkan “Double Grand Slam” (memenangkan Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan Piala Dunia masing-masing dua kali). Kehebatannya bertumpu pada teknik forehand yang mematikan dan konsistensi luar biasa selama belasan tahun kariernya.

Kondisi Masa Kini (Hingga 2024-2026):
Saat ini, generasi penerus telah mengambil tongkat estafet. Di sektor putra, Fan Zhendong dan Wang Chuqin bergantian meraih peringkat satu dunia. Fan Zhendong baru saja mengukuhkan statusnya sebagai salah satu yang terbaik dengan meraih Medali Emas Olimpiade Paris 2024, mengalahkan pemain yang penuh sensai asal Swedia, Truls Möregårdh, di partai final. Sementara itu, Wang Chuqin menjadi andalan utama Tiongkok untuk masa depan dengan gaya permainan kidalnya yang agresif.

Di luar dominasi Tiongkok, Eropa mulai menunjukkan kebangkitan kembali. Selain Truls Möregårdh yang menggunakan raket cyber-shape (segi enam) yang unik, ada bintang muda asal Prancis, Félix Lebrun. Dengan gaya penhold yang jarang digunakan oleh pemain Eropa masa kini, Félix menjadi ancaman besar bagi para pemain top Asia dan sukses meraih medali perunggu di usianya yang masih sangat belia di Olimpiade Paris.
Di sektor putri, dominasi Tiongkok bahkan lebih absolut. Pemain seperti Sun Yingsha, Chen Meng, dan Wang Manyu menduduki puncak peringkat dunia. Chen Meng berhasil mempertahankan gelar emas Olimpiade-nya secara back-to-back di Tokyo 2020 dan Paris 2024, sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah persaingan internal Tiongkok yang sangat ketat. Pemain non-Tiongkok yang kerap merepotkan barisan ini antara lain Mima Ito dan Hina Hayata dari Jepang, serta Shin Yu-bin dari Korea Selatan.

Kesimpulan
Evolusi tenis meja dari permainan santai di ruang tamu Inggris menjadi arena pertarungan gladiator olahraga modern adalah bukti betapa dinamisnya olahraga ini. Inovasi teknologi pada bet dan karet terus memaksa atlet untuk beradaptasi, meningkatkan kecepatan refleks, dan mengasah kejeniusan taktis mereka.
Meski Tiongkok masih menjadi penguasa mutlak yang sangat sulit diruntuhkan, kebangkitan talenta-talenta muda dari Eropa dan belahan dunia Asia lainnya memastikan bahwa sejarah tenis meja dunia akan terus menghadirkan kejutan, drama, dan keindahan olahraga di masa yang akan datang.

Oleh : Asman Djasmin
Editor: Rustam Suddin

scroll to top