Bunda Indah Dorong Barcode Literasi Digital di Ruang Publik, Ponsel Jadi Jendela Ilmu

IMG-20260919-WA0068.jpg

Lumajang,Benua News.com – Ponsel tidak harus berhenti sebagai alat hiburan. Di tangan yang tepat, perangkat yang setiap hari dibawa masyarakat itu bisa menjadi pintu menuju pengetahuan, termasuk ketika digunakan saat berada di ruang publik.

Gagasan tersebut disampaikan Bupati Lumajang Indah Amperawati saat memberikan pengarahan dalam Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, Pengawas, dan Fungsional di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lumajang, bertempat di Lobby Pemkab Lumajang, Rabu (16/9/2026).

Bunda Indah mendorong Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk mengembangkan inovasi literasi digital yang dapat menjangkau masyarakat di berbagai ruang publik. Ia membayangkan materi pengetahuan dapat diakses masyarakat dengan cara sederhana, salah satunya melalui barcode yang dipindai menggunakan telepon seluler.

Ruang publik yang dimaksud tidak hanya perpustakaan. Gagasan tersebut dapat dikembangkan di alun-alun, sekolah, masjid, musala, maupun ruang lain yang banyak didatangi masyarakat.

Dengan pola itu, masyarakat tidak harus datang secara khusus ke perpustakaan untuk mendapatkan bahan bacaan atau informasi edukatif. Pengetahuan dapat hadir lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Materinya pun dapat dibuat beragam sesuai kebutuhan masyarakat. Mulai dari pengetahuan keagamaan, perpajakan, pendidikan, hingga pola pengasuhan anak dapat dikemas menjadi bahan literasi digital yang mudah diakses.

Bunda Indah menilai pemanfaatan teknologi perlu diarahkan lebih luas. Ponsel yang selama ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat seharusnya juga dapat menjadi sarana membuka wawasan.

Ia mengingatkan agar penggunaan telepon seluler tidak hanya berorientasi pada hiburan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai jendela untuk memperoleh pengetahuan.

Gagasan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa literasi pada era digital tidak cukup dipahami sebagai aktivitas membaca buku secara konvensional. Akses terhadap informasi, kemampuan menemukan pengetahuan yang relevan, serta pemanfaatan teknologi untuk belajar menjadi bagian yang semakin penting.

Jika dikembangkan dengan materi yang tepat, barcode di ruang publik dapat menjadi titik masuk sederhana bagi masyarakat untuk membaca dan belajar sesuai kebutuhannya.

Misalnya, orang tua yang berada di ruang publik dapat mengakses materi tentang pengasuhan. Pelajar dapat menemukan bahan pengetahuan pendukung pembelajaran. Masyarakat juga dapat memperoleh informasi mengenai perpajakan atau topik lain yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat, pendekatan tersebut membuka kemungkinan agar aktivitas literasi tidak terikat tempat dan waktu. Pengetahuan dapat diakses ketika masyarakat sedang berada di ruang yang memang sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka.

Karena itu, inovasi literasi digital perlu dirancang bukan hanya menarik secara teknologi, tetapi juga memiliki isi yang bermanfaat, mudah dipahami, dan relevan dengan kebutuhan warga.

Melalui pemanfaatan ruang publik sebagai titik akses pengetahuan, Pemerintah Kabupaten Lumajang mendorong agar teknologi semakin dekat dengan fungsi edukasi. Dengan demikian, ponsel tidak hanya menjadi sarana untuk melihat apa yang sedang ramai, tetapi juga menjadi jendela untuk memahami lebih banyak hal.

(M.HADI)

Redaksi

Redaksi

Satu Pelurumu Hanya Tembus Satu Kepala Manusia...Tetapi Satu Tulisan Seorang Jurnalis Bisa Tembus Jutaan Manusia (082331149898)

scroll to top