MUARO JAMBI.(Benuanews.com)-Tragedi di aliran Sungai Batanghari, kawasan Niaso, Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (20/5) pagi, menyisakan duka mendalam.
Tiga pekerja kapal ditemukan tewas di dalam palka tongkang KM TS Daya Niaso. Mereka diduga keracunan gas berbahaya saat bekerja di ruang tertutup.
Ketiga korban masing-masing Zulkarnain (42), Popo (32), dan Rudiansyah (41). Semuanya warga Pontianak. Saat dievakuasi Tim SAR Gabungan, kondisi korban sudah tidak bernyawa.
Insiden bermula sekitar pukul 08.55 WIB. Ketiganya turun ke dalam palka untuk melakukan perbaikan. Namun, tak lama berselang, mereka mendadak lemas dan tidak merespons panggilan dari atas kapal. Situasi itu langsung memicu kepanikan.
Pemilik tongkang, Sani, bergerak cepat. Pada pukul 09.15 WIB, laporan darurat dikirim ke Kantor SAR Jambi.
Respons cepat ditunjukkan tim SAR. Sebanyak 14 personel Search and Rescue Unit (SRU) dikerahkan. Tim bergerak melalui jalur darat dan air, menempuh jarak sekitar 13,5 kilometer. Mereka tiba di lokasi pukul 10.25 WIB dan langsung melakukan evakuasi.
Medan yang dihadapi tidak mudah. Palka kapal dikenal sebagai ruang terbatas (confined space) dengan risiko minim oksigen dan paparan gas beracun. Tim harus menggunakan peralatan khusus Confined Space Rescue (CSR).
Evakuasi berlangsung cepat namun menegangkan.Pukul 10.58 WIB, korban pertama berhasil diangkat. Disusul korban kedua pada pukul 11.03 WIB. Lima menit kemudian, korban ketiga dievakuasi. Seluruhnya dinyatakan meninggal dunia.
Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Jambi untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Operasi ini melibatkan berbagai unsur. Mulai dari Kantor SAR Jambi, kru Rigid Buoyancy Boat (RBB), Polairud Polda Jambi, hingga masyarakat sekitar.
Sejumlah peralatan dikerahkan, seperti rescue car, kapal fiber, perlengkapan medis, hingga drone thermal untuk memantau kondisi di dalam palka.
Kurang dari satu jam sejak tiba di lokasi, seluruh korban berhasil dievakuasi. Pukul 12.00 WIB, operasi resmi ditutup.