*Rakor PKK–Wallacea Dorong Sinergi Program PATBM, VSLA, dan GALS di Luwu Utara*

Screenshot_20260219_164043.jpg

LUWU UTARA-Benuanews.com-Perkumpulan Wallacea bersama Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Luwu Utara melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) Penyelenggaraan Program Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan di Hotel Remaja Indah, Masamba, Jumat, 13 Februari 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan program Reaching Coco Farmer dan GrowHer Kakao yang didukung Save the Children, MARS, GIZ, Grow Asia, dan PISS Agro yang menghadirkan pengurus TP-PKK Kabupaten, TP PKK Kecamatan, Dinas P3AP2KB, Dinas PMD, dan Dinas P2KUKM.

Program manager Perkumpulan Wallacea, Asrul, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas penggerak PKK terkait upaya melindungi anak-anak dan memampukan perempuan dalam mewujudkan keluarga sejahtera.

“PKK perlu memahami apa itu PATBM, VSLA, GALS, serta intervensi lainnya yang sudah dilakukan selama ini, karena urusan anak dan perempuan itu sangat melekat dengan visi dan misi PKK,” jelas Asrul, sembari berharap, apa yang sudah dimulai Wallacea bisa dirawat dan menjadi bagian dari program TP-PKK ke depannya.

Kepala DP3AP2KB, Dr. H. Agunawan, SKM., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa DP3AP2KB telah membentuk PATBM di 140-an desa dan yang aktif sebanyak 90 desa. Perubahan yang nampak dari keberadaan PATBM ini terkait penanganan kasus kekerasan anak yang makin baik dalam pelaksanaannya.

“Untuk kasus-kasus ringan, PATBM sudah bisa selesaikan di tingkat desa. Namun, untuk kasus-kasus berat, seperti kasus kekerasan seksual pasti akan dirujuk ke kabupaten. Sudah banyak pemerintah desa dan tokoh masyarakat yang memahami prosedur ini dan berkolaborasi dengan dinas serta lembaga masyarakat lainnya,” jelasnya.

Rakor ini menghadirkan Ketua TP PKK Luwu Utara sebagai nara sumber. Dalam paparannya, Ny. Misnawati Andi Rahim menekankan bahwa gerakan PKK memliki visi luhur, salah satumya adalah mendorong keluarga yang maju, mandiri, serta adanya kesetaraan dan keadilan.

Sementara misi PKK sendiri mencakup peningkatan karakter, penguatan pendidikan dan ekonomi, ketahanan keluarga, kesehatan, lingkungan, serta pengelolaan gerakan PKK. “Jadi, kalau melihat visi-misi PKK, hampir semuanya kita urus, dan kalau berjalan akan luar biasa hasilnya,” jelasnya.

“Olehnya itu, kita harus tetap bersemangat demi kemajuan masyarakat Kabupaten Luwu Utara,“ sambung istri Bupati Luwu Utara ini.

Lanjut ia menjelaskan bahwa PKK memiliki peran nyata dalam upaya perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan, seperti pencegahan kekerasan dan edukasi dalam memberikan pemahaman tentang hak-hak perempuan dan anak kepada masyarakat.

Tak hanya itu, lanjut dia, ada juga pencegahan perkawinan anak yang masih menjadi masalah di Provinsi Sulawesi Selatan, salah satunya melalui program PKK goes to school.

“Kasus pernikahan anak ini dipengaruhi banyak faktor, sehingga semua pihak harus sama-sama kompak bergerak untuk mencegahnya. Tentu saja kolaborasi PATBM dan PKK desa, pemerintah desa-nya harus tegas, juga dukungan tokoh masyarakat untuk kehidupan anak yang lebih baik,” imbuhnya.

Terkait pemberdayaan perempuan, ia mengatakan bahwa PKK memiliki program pemberdayaan ekonomi perempuan, di mana PKK berusaha dalam meningkatkan status dan peran perempuan melalui pelatihan keterampilan dan pengembangan ekonomi kreatif agar perempuan lebih mandiri secara finansial.

Selain itu, lanjut dia, kader PKK juga dapat bertindak sebagai paralegal atau garda terdepan yang memfasilitasi pelaporan dan pendampingan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun anak.

Kegiatan selanjutnya sesi berbagi pengalaman yang disampaikan 3 orang perwakilan masyarakat yang selama ini terlibat dalam program perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan.

Diawali oleh Debora, Ketua PATBM Desa Baebunta, yang berbagi pengalaman tentang gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakar (PATBM).

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa upaya melindungi anak merupakan kewajiban semua pihak. “Di tingkat desa, kewajiban itu melekat pada pemerintah desa, sehingga pemerintah desa harus memiliki program untuk memastikan semua anak di desa terlindungi dari segala macam bentuk kekerasan,” jelasnya.

“Pemerintah desa pun harus memastikan setiap langkah dan pengambilan keputusan terkait kasus-kasus anak diselesaikan melalui prosedur yang tepat, demi kepentingan terbaik sang anak,” sambungnya.

Lebih jauh Debora mengatakan, kehadiran PATBM menjadi mitra pemerintah dan lembaga lainnya di desa dalam upaya pemenuhan hak anak dan perlindungan anak.

Masih Debora, secara kelembagaan, keberadaan PATBM itu ada dalam naungan pemerintah desa dan secara regulasi desa berkewajiban untuk mendukung kegiatan-kegiatan perlindungan anak, baik melalui PATBM ataupun lembaga lainnya

“Di Desa Baebunta, PATBM mulai aktif setelah didampingi Wallacea, banyak kegiatan yang telah dilakukan, seperti penyadaran di tingkat dusun, gereja, sekolah, serta penanganan kasus, baik sifatnya ringan maupun berat. Itu semua kami lakukan bersama pemerintah desa dan didukung pendanaan dari desa,” jelasnya lagi.

Anggaran itu, kata dia, bukan untuk insentif atau gaji PATBM, tetapi untuk mendukung kegiatan-kegiatan PATBM, seperti konsumsi atau transport, karena penggerak PATBM sifatnya sukarelawan, jadi tidak mendapat gaji ataupun insentif rutin seperti kader-kader desa lainnya

“Kolaborasi PKK desa dan PATBM ke depannya menjadi sangat penting untuk lebih memperkuat pencegahan kekerasan terhadap anak,” tandasnya.

Sesi berikutnya disampaikan Normaidah yang berbagi tentang kegiatan VSLA (Village Saving and Loan Assocation). Di mana VSLA ini bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan menabung dan menyediakan fasilitas simpan pinjam sederhana pada suatu komunitas.

“Proses pembentukan VSLA diawali dengan pengenalan literasi keuangan, menghitung keuangan rumah tangga, serta membuat tujuan lima sampai 10 tahun ke depan, yang akan menjadi alasan untuk menabung,” terangnya.

Lebih lanjut ia menjelasakan bahwa literasi keuangan merupakan pengetahuan, keterampilan dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Terkait VSLA, ia menjelaskan bahwa jumlah keanggotaan VSLA sebanyak 10 – 25 orang, yang bisa menabung bersama-sama dan bisa meminjam sejumlah uang dari simpanan tersebut. Pemilihan anggota ditentukan dan diseleksi oleh kelompok berdasarkan asas kepercayaan, minat untuk mengikuti dan mengembangkan kelompok.

Dikatakannya, kegiatan VSLA desa berlangsung dalam satu siklus berdurasi 9 – 12 bulan, setelah simpanan dan keuntungan yang terkumpul dibagikan kepada seluruh anggota sesuai nilai yang telah mereka simpan.

“Saya ikut Pelatihan Champion VSLA 3 tahun lalu, sekarang di desa saya sudah ada 4 kelompok VSLA, dua di antaranya sudah berjalan lebih dari satu siklus dan memiliki usaha atau bisnis kelompok. Kelompok-kelompok VSLA ini bisa terus dikembangkan dan juga menjadi bagian dari program dan kegiatan PKK desa, karena selaras dengan visi dan misi PKK,” jelasnya.

Sesi berbagi terakhir tentang Gender Action Learning System (GALS) yang disampaikan Efrain Misi, salah seorang champion yang sudah dilatih dan menerapkan konsep GALS di lingkungan keluarga.

Efrain menjelaskan bahwa GALS memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan yang setara di lingkup keluarganya, termasuk pengelolaan kebun Kakao yang dimilikinya. Selain kesetaraan gender, kata dia, dalam pengambilan keputusan bersama, GALS juga mensyaratkan pentingnya keterbukaan, pembagian peran, dan manajemen konflik keluarga secara positif.

Dijelaskannya, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan sangatlah penting karena dapat mewujudkan keadilan, meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat. Perempuan, kata dia, juga kerap menghadirkan prespektif yang unik dan berharga.

“Yang saya pelajari di GALS ini, banyaknya pentengkaran di rumah tangga, salah satunya disebabkan pembagian peran yang tidak sama,” ungkapnya.

“Saya menganggap bahwa peran istri itu hanya ada di rumah mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak, dan saya sebagai suami hanya mencari nafkah. Ketika kami mencoba menghitung waktu kerja antara laki-laki dan perempuan, ternyata perempuan terlalu banyak pekerjaannya di rumah,” sambungnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa terkadang istrinya harus berada pada kondisi, di mana ia harus terpaksa meluapkan kemarahannya akibat pembagian peran yang kurang tepat.

“Kenapa istri saya selalu teriak-teriak dan marah-marah, tenyata masalahnya pembagian peran yang tidak tepat. Maka saya mulai mengambil beberapa peran yang selama ini dilakukan oleh istri saya, seperti menyapu, mencuci, dan mengasuh anak,” terangnya.

“Hal lainnya, kami mulai saling terbuka satu sama lain tentang keuangan serta masalah rumah tangga. Ketika kita terbuka kepada pasangan, suami istri kita akan makin bahagia, “tambahnya.

Kegiatan selanjutnya menyusun dan menyepakati aksi yang akan dilakukan peserta dalam merawat dan mengembangkan program GrowHer.

TP-PKK Luwu utara akan melakukan sosialiasasi pencegahan pernikahan anak di sekolah-sekolah, dan akan membuat kelompok VSLA bagi pengurus PKK pada Maret 2026 mendatang.

TP-PKK Kecamatan Masamba, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, Sabbang, dan Sabbang Selatan akan melakukan sosialisasi pencegahan bullying di sekolah serta kunjungan ke kelompok VSLA di tingkat desa pada bulan April 2026.

TP PKK Kecamatan Sukamaju, Sukamaju Selatan, Tana Lili, dan Bone Bone juga akan melakukan Pelatihan PATBM bagi kader PKK dan sosialisasi VSLA di tingkat kecamatan pada April 2026.

Sementara rencana aksi perangkat daerah terkait akan menginisiasi pembentukan PATBM di wilayah gunung, serta pembentukan VSLA di Desa Munte dan Giri Kusuma pada April 2026.

Menutup kegiatan rakor ini, Ketua TP-PKK Luwu Utara, Ny. Misnawati Andi Rahim menyampaikan bahwa banyak hal yang diperoleh dan bisa bermanfaat dalam mendukung kegiatan PKK di tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa.

“Alhamdulillah, dari pagi menjelang sore, kita mengikuti acara Rakor Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan. Hari ini wajahnya ibu-ibu makin cerah, Semoga apa yang didapatkan hari ini benar-benar dihayati dan rencana aksinya jangan lupa untuk dilaksanakan, kita akan sama-sama memastikan semua terlaksana dengan baik,” imbuhnya.

“Tujuan kita pada hari ini adalah untuk bersama-sama sepakat mendapatkan ilmu, kemudian ilmu itu menjadi bekal strategi bagi kita untuk pemberdayaan perempuan dan melindungi anak-anak kita,” pungkasnya. (RED#)

Editor: Andi Uttang

scroll to top