Diduga Proyek Siluman, Irigasi di Sabintang Takalar Sarat Korupsi, Pelanggaran Teknis, dan Ancaman Keselamatan Warga

IMG-20260131-WA0006.jpg

Takalar.Benuanews.com
Dugaan proyek siluman pembangunan irigasi di Kelurahan Sabintang, Kabupaten Takalar, yang dikerjakan pada tahun 2025 kembali menuai sorotan tajam publik. Proyek yang digadang-gadang menopang sektor pertanian tersebut justru memunculkan sederet kejanggalan serius, mulai dari kualitas konstruksi, dugaan pelanggaran teknis, hingga potensi ancaman keselamatan warga, Sabtu (31/01/2026).

Hasil pantauan langsung awak media di lokasi mengungkap indikasi kuat bahwa proyek ini dikerjakan tanpa standar mutu yang layak. Alih-alih memberi manfaat, keberadaan saluran irigasi tersebut justru dikhawatirkan menjadi sumber masalah baru bagi masyarakat petani di sekitarnya.

Secara visual, konstruksi saluran irigasi tampak jauh dari kaidah teknis. Dinding saluran terlihat bergelombang, tidak simetris, serta menyempit di beberapa titik. Ketidakkonsistenan lebar dan kedalaman ini berpotensi menghambat aliran air dan mengurangi debit yang seharusnya mengaliri sawah warga secara merata.

Kualitas beton pun menuai sorotan tajam. Permukaan beton tampak kasar dan keropos, disertai retak rambut yang mengindikasikan mutu pengerjaan rendah. Bahkan, ditemukan rembesan air di sisi dan dasar saluran, menandakan beton tidak kedap air serta minim perlindungan struktur. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kebocoran air sebelum mencapai lahan pertanian.

Tak hanya itu, pemasangan pintu air diduga kuat tidak sesuai standar. Pintu berbahan besi terlihat berkarat, tidak menutup rapat karena diduga menggunakan pintu lama, serta terpasang dalam posisi miring. Akibatnya, fungsi pengaturan debit air menjadi tidak optimal dan rawan mengganggu sistem distribusi irigasi.

Dari aspek kekuatan struktur, fondasi dan penguat saluran juga dinilai sangat lemah. Tidak tampak adanya tulangan beton yang memadai maupun penguatan khusus pada titik belokan. Kondisi ini membuat konstruksi rawan retak bahkan berpotensi ambruk, terutama saat debit air meningkat di musim hujan.

Lebih ironis, proyek ini terkesan dipaksakan tanpa perencanaan matang. Tidak ditemukannya ujung pembuangan air (outlet), penggunaan pondasi lama yang hanya ditambal dengan konstruksi baru, serta absennya proses pembongkaran dan pemadatan tanah dasar menjadi indikasi kuat lemahnya pengawasan dan perencanaan proyek.

Aspek keselamatan warga pun seolah diabaikan. Ketiadaan penutup saluran dan pengaman tepi dinilai sangat membahayakan, khususnya bagi petani yang beraktivitas di sekitar lokasi serta anak-anak yang kerap melintas di area tersebut.

Atas berbagai temuan tersebut, masyarakat mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan mengusut tuntas proyek irigasi ini. Pengusutan dinilai penting guna memastikan transparansi, akuntabilitas penggunaan anggaran negara, serta mencegah potensi kerugian dan korban di kemudian hari.

Sementara itu, awak media telah berupaya mengonfirmasi dugaan penggunaan pondasi lama yang ditambal dengan konstruksi baru kepada berinisial AML. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan.(red/tim)

scroll to top