Dompu,NTB.Benuanews.com.
Gunung Tambora, yang terletak di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, telah dinaikkan statusnya menjadi Siaga Level Dua oleh Badan Geologi Indonesia.
Keputusan ini diambil setelah serangkaian data seismik menunjukkan lonjakan signifikan dalam aktivitas magma di kedalaman gunung bersejarah tersebut. Gunung Tambora, dengan ketinggian 2.850 meter di atas permukaan laut, terletak di 8,25° Lintang Selatan dan 118,00° Bujur Timur, di atas Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia, membuatnya rentan terhadap aktivitas vulkanik.
Masyarakat di sekitar gunung api tersebut dihimbau untuk waspada dan mematuhi instruksi dari pihak berwenang. Aktivitas vulkanik Gunung Tambora dipantau secara ketat untuk mengantisipasi kemungkinan erupsi.
Gunung Tambora akan terus dipantau oleh ahli kegunungapian (BMKG) untuk memantau aktivitas vulkaniknya. Larangan mendekati radius 3 kilometer dari kawah masih berlaku, termasuk untuk turis lokal dan mancanegara.
Masyarakat dilarang turun ke kawah maupun melintas di pinggir kawah untuk menghindari risiko erupsi di bibir gunung. Dua belas desa di Kec. Pekat, Kab. Dompu, dan lima desa di Kec. Tambora, Kab. Bima, berada dalam zona rawan dan harus waspada.
Aktivitas PT AWB yang melakukan penggusuran di Sori Sumba Doro Lede, Kec. Tambora, Kab. Bima, telah melanggar prosedur dan peraturan yang berlaku. PT AWB diminta untuk segera menghentikan kegiatan penggusuran yang dapat menyebabkan erosi dan bencana banjir di Desa Labuan Kenanga dan sekitarnya.
Masyarakat di pinggir kawasan lereng Gunung Tambora dihimbau untuk tidak melakukan pengaplingan tanah atau pembabatan di jalur puncak, tepatnya di jalur Pos Satu, karena daerah tersebut merupakan daerah konservasi dan terlarang.
Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi terbaru tentang status gunung dan mengikuti instruksi dari pihak berwenang untuk menghindari risiko bencana.
Letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 memiliki dampak besar pada sejarah dunia. Letusan tersebut terjadi pada masa Perang Napoleon, dan dampaknya dirasakan di seluruh dunia.
Letusan Gunung Tambora melemahkan perekonomian dunia dan mempengaruhi hasil panen di Eropa, yang kemudian memicu krisis pangan dan kelaparan. Letusan ini juga mempengaruhi cuaca global, menyebabkan “Tahun Tanpa Musim Panas” pada tahun 1816.
(SUMANTRI)